Sosok

Permen Jeli Beraroma Jeruk dari Paus Fransiskus untuk Cia

Oleh : very - Jum'at, 14/06/2024 14:28 WIB

Jophiella Gratia (CIA) Deviyani (6 tahun) dari Indonesia akhirnya bisa bersalaman juga dengan Paus Fransiskus, pada Rabu, 17 April 2024. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Meski harus bersabar di antara kerumunan para peziarah dan udara dingin yang menggigit, Jophiella Gratia (CIA) Deviyani (6 tahun) dari Indonesia akhirnya bersalaman juga dengan Paus Fransiskus. Kejadian itu terjadi dalam audiensi umum dengan Paus Fransiskus pada Rabu, 17 April 2024.

Dan tak lupa, Paus memberi hadiah permen kepada Cia – panggilan akrab Gratia. Hanya satu permen. Tetapi itu hadiah tak ternilai harganya dan tidak akan pernah dimakan. Entah sampai kapan.

Bertemu dan dapat bersalaman dengan Paus adalah idaman ratusan ribu peziarah yang setiap hari Rabu yang memadati Lapangan Basilica St. Petrus, Vatikan dalam agenda mingguan audiensi umum.  Dan bersalaman dengan Paus adalah suatu anugerah luar biasa bagi yang mengalaminya. Konon ada kepercayaan bahwa jika tidak dikehendaki Tuhan, salaman dengan Paus tidak mungkin akan terjadi sekalipun sudah direncanakan.

Cia adalah puteri dari Elizabeth Wulandari, seorang ibu rumah tangga.  Untuk datang ke Vatikan bagi anak berusia 6 tahun tidaklah mudah. Kekhawatiran akan hilang dalam kerumunan - karena naluri anak kecil yang selalu ingin bermain - menjadi salah satu momok bagi orangtuanya. Belum lagi jika si anak merasa tidak betah dengan lingkungan baru yang asing. Ini akan menjadi masalah lain. Penyakit homesick – rindu akan rumah asal, juga menjadi faktor pertimbangan bagi orangtua untuk membawa anaknya bepergian ke luar negeri. Apalagi ke luar negeri dalam rangka berziarah.

Namun tidak demikian dengan Cia. Jauh-jauh hari sebelum keputusan berangkat ke Vatikan diambil, murid TK Stella Maris, Gading Serpong, Tangerang ini sudah diberitahu oleh orangtuanya untuk “behave” – bersikap tidak rewel. Itu merupakan janji yang harus di-deal-kan. Selain tidak rewel, janji yang harus dipenuhi oleh Cia adalah tidak boleh mengeluh, harus kuat berjalan. Cia tidak diijinkan minta digendong sekalipun merasa capai.

Setiap anak selalu membawa karakternya sendiri sejak lahir. Dan bagaimana karakter yang dimiliki Cia diperlihatkannya dalam perjalanan ziarah ke Vatikan. Anak kelahiran Februari ini tidak mengeluh, tidak rewel apalagi minta gendong. Ia mematuhi apa yang sudah menjadi perjanjian antara dirinya dengan sang ibu. Meskipun demikian ia tetaplah anak kecil, dan itu ditunjukkannya dengan membawa boneka. Sementara HP yang biasanya menemaninya, bisa dikata tak tersentuh sejak pagi hingga malam.

Rabu, 17 April 2024, hari audiensi umum. Itu hari yang ditunggu-tunggu. Cia harus mengikuti jadwal dari rombongan yang diikutinya yakni bangun pagi subuh. Mobil jemputan untuk mengantarkannya ke Lapangan St. Petrus mempunyai jadwal ketat dan tidak boleh terlambat. Jadi mengantukpun harus dilawan. Tentu sesuai dengan janjinya. Cia juga mengenakan baju berlapis-lapis untuk melawan hawa dingin yang menggigit.

Bersyukur, rombongan mendapat tempat di Reparto Speciale – wilayah khusus, yang lebih dekat dengan Paus Fransiskus. Namun tempat ini tidak menjamin seseorang akan mendapat anugerah bersalaman dengan orang nomor satu di Gereja Katolik Sedunia itu. Di wilayah reparto speciale ini, wajah Paus terlihat jelas karena berjarak sekitar 25 meter. Untuk bersalaman dengan Paus, setiap peziarah harus berebut posisi. Maklum, ada pagar kayu setinggi 1,30 meter yang membatasi area ini dengan area VVIP.

Seperti biasanya, Paus Fransikus keluar ke Lapangan St. Petrus pada  pukul 09.30. Sambil menunggu keluarnya Paus Fransiskus dengan mobil putih terbuka, masing-masing peziarah menempati tempat duduknya sesuai dengan urutan. Nampak, para pengawal Paus yang berjaga berdiri tegak, tak bergerak dengan wajah tanpa emosi.  Hanya pandangannya yang terkadang melihat tajam lingkungan sekitar.

Rombongan dari Indonesia menjadi riuh ketika Rm Markus Solo Kewuta menghampiri. Ia pejabat Vatikan satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Tepatnya dari Nusa Tenggara Timur. Bagi peziarah ataupun orang Indonesia yang berkunjungan ke Vatikan, Rm Markus Solo merupakan perpustakaan berjalan. Ia mengetahui setiap sudut Vatikan dan Kota Roma.  

“Gratia artinya rahmat dan seperti namanya semoga mendapat anugerah bisa disentuh Pope. Semoga Cia mendapat anugerah dan bisa bersalaman dengan Paus ya,“ ujar Rm Markus Solo sambil memegang kepala Cia. Anak kecil ini hanya melihat Rm Markus Solo sambil mengangguk-angguk.

 

Dihampiri Paus

Paus Fransiskus datang ke Lapangan St. Petrus. Semua peziarah bergembira, bernyanyi dan mengelu-elukan. Paus mengelilingi St Petrus dan menyapa para peziarah. Anak-anak kecil selalu mendapat perhatian dari Paus Fransiskus. Dan setiba di podium, mimbar utama, semua terdiam dan mendengarkan memberikan sambutan dalam berbagai bahasa.

Setelah pemberian sambutan, Paus menerima audiensi dari para uskup dan kardinal yang hadir dalam acara tersebut. Segera setelahnya, Paus Fransiskus dengan menggunakan kursi roda, menghampiri para peziarah yang berada di VVIP yang berasal berbagai negara dan kalangan.

Ucapan selamat juga diucapkan oleh Paus Fransiskus kepada para pengantin baru yang mendapat anugerah bersalaman secara pribadi. Paus juga berfoto bersama dengan peziarah rombongan yang sudah terdaftar.

Ketika rombongan khusus sudah selesai, Paus yang tanpa kenal lelah  itu kemudian menghampiri para peziarah rombongan atau individual yang berada di reparto speciale. Tidak mudah untuk mendapatkan perhatian dari Paus dan kemudian bersalaman.  Karena tidak diatur, tidak ada urutan, para peziarah berdesak-desakan untuk menempati posisi di pagar pembatas. Dan ini yang dialami oleh Cia juga.

Jika ingin mendapat kesempatan bersalaman atau menyentuh Paus, para peziarah harus bersabar menunggu ada tempat lowong ataupun bersabar untuk berdesak-desakan. Paus Fransiskus selalu tersenyum menyalami satu-satu peziarah.  Tak luput, hal yang sama dilakukan Cia dan Mamanya. Cia memanggil sang ibu dengan sebutan Mama.

Dan tibalah giliran Cia. Ia berjuang untuk mendapatkan perhatian. Dengan kaki dan tubuhnya dipegangi sang mama, Cia mencoba menarik perhatian Paus Fransiskus. Cukup dekat jaraknya. Hanya satu meter. Meski dekat, Cia tetap harus bersabar menunggu giliran.

Akhirnya, Paus Fransiskus menyentuh Cia. Paus Fransiskus memandang tajam pada Cia yang bingung dengan situasi itu. Namun Cia tersenyum ketika Paus Fransiskus menyelipkan permen ke dalam genggaman tangannya. Tidak lama persentuhan yang terjadi antara tangan Cia dan tangan Paus Fransiskus. Namun itu adalah sejarah hidup seorang manusia.  Anggota rombongan lain bersorak karena upaya bersalaman dengan Paus dengan penantian berjam-jam membuahkan hasil. Anugerah yang luar biasa. Bagi seorang anak, yang menanti dalam ketidakmengertiannya.

Perjuangan Cia cukup hebat dan luar biasa. Bersabar meski menunggu di tempat kurang lebih 5 jam hingga bisa bersalaman dengan Paus. Harus menahan keinginan untuk pergi ke toilet, tidak ngemil, dan tidak istirahat duduk. Maklum, kesempatan sedikitpun terlewatkan, posisi bisa diambil oleh orang lain. Sementara untuk menempati posisi berdiri yang strategis, harus berjuang. Semua peziarah ingin bersalaman dengan Paus Fransiskus.

“Mama, permennya boleh dimakan tidak ? Cia pingin….,” tanya Cia kepada ibunya. Sambil tersenyum dan menggeleng ibunya mengatakan, “Nanti ya kalau sampai di Indonesia.”

Hadiah luar biasa. Permennya warna kuning jeruk bertuliskan Baratti & Milano, nama sebuah brand yang sangat terkenal di dunia. Berawal dari nama sebuah café yang didirikan pada tahun 1858 di Turin, Italia, Baratti & Milano kemudian menjadi produsen coklat dan kemudian diikuti produksi berbagai jenis permen.

Dan, hingga kini permen jeli rasa aroma jeruk itu dari Paus Fransiskus itu tetap utuh sebagai kenang-kenangan yang tak ternilai. 

Peristiwa luar biasa ini diharapkan menjadi warna indah dan sejarah tak terlupakan seiring dengan perjalanan  hidup Cia selanjutnya. ***

Artikel Terkait