Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintah Iran menuduh Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, telah memutarbalikkan fakta dalam laporannya mengenai program nuklir Teheran. Iran menyebut laporan itu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap mandat yang diberikan kepada IAEA dan menjadi pembenaran bagi Israel untuk melancarkan serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Kamis (19/6), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut laporan Grossi sebagai “bias dan menyesatkan.” Ia menilai laporan tersebut telah dimanfaatkan oleh Amerika Serikat dan tiga negara Eropa untuk meloloskan resolusi IAEA yang menuduh Iran tidak patuh terhadap kewajiban nonproliferasi nuklir.
"Ini sudah terlambat, Tuan Grossi," ujar Baqaei, merujuk pada wawancara Grossi dengan CNN, di mana kepala IAEA menyebut belum ada bukti upaya sistematis Iran untuk membuat senjata nuklir.
Grossi sebelumnya melaporkan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga kadar 60 persen. Pernyataan ini menjadi dasar resolusi IAEA yang mengecam Iran dan mendorong Dewan Gubernur menyatakan Iran melanggar kewajiban nonproliferasi untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Resolusi tersebut didukung 19 dari 35 negara anggota, termasuk AS, Inggris, Prancis, dan Jerman.
Iran menolak keras keputusan tersebut, menyebutnya bermotif politik dan bias, serta mengumumkan rencana membangun fasilitas pengayaan baru. Rusia juga mengkritik resolusi tersebut, menyebutnya sebagai pembuka jalan bagi serangan militer Israel terhadap Iran.
Baqaei menyatakan bahwa laporan Grossi telah "mengaburkan kebenaran" dan "dimanfaatkan oleh rezim yang suka berperang dan melakukan genosida" untuk membenarkan serangan "ilegal" terhadap situs nuklir Iran. Ia juga menuduh Grossi telah “mengkhianati rezim nonproliferasi” dan memperingatkan bahwa narasi yang salah “akan membawa konsekuensi mengerikan.”
Israel, dalam pernyataannya, membenarkan serangan militer ke Iran dengan dalih bahwa Teheran sedang berada di ambang memproduksi senjata nuklir. Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan sesuai hak kedaulatan.
Kepala IAEA sendiri mengakui bahwa meskipun Iran memiliki cukup uranium yang diperkaya, konversi ke senjata nuklir memerlukan teknologi dan pengujian yang belum dibuktikan oleh inspektur IAEA. “Kami belum melihat bukti adanya upaya sistematis ke arah itu,” tegas Grossi dalam wawancaranya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa Teheran akan membatasi kerja sama dengan IAEA karena kegagalan badan tersebut mengutuk serangan Israel. Ia menilai sikap IAEA sebagai “tidak masuk akal” dan menunjukkan keberpihakan politik yang berbahaya.
Ketegangan antara Iran dan IAEA kini berada di titik kritis, dengan dampak besar terhadap stabilitas Timur Tengah dan masa depan perjanjian nuklir internasional.