Bogor, INDONEWS.ID - Tahun ini, Indonesia, melalui Erudio Indonesia (salah satu sekolah demokratis di Indonesia) untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Asia Pacific Democratic Education Conference (APDEC) 2025, yang akan digelar bersamaan dengan Pertemuan Nasional Jaringan Pendidikan Alternatif Indonesia (JPAI).
Mengusung tema besar "Reimagining Future Education", konferensi ini lahir dari kesadaran akan tantangan besar yang akan dihadapi dunia pendidikan di masa depan. Perubahan lanskap pekerjaan yang sangat cepat, peran AI dan robot yang semakin dominan, serta transformasi ekosistem pembelajaran menuntut kita untuk memikirkan ulang cara mendidik dan mempersiapkan generasi mendatang.
Pendidikan alternatif, khususnya pendidikan demokratis, diyakini memiliki potensi besar untuk membantu menjawab tantangan ini.
Sejak awal, pendidikan demokratis menekankan pentingnya kemandirian pembelajar, kemampuan belajar mandiri, serta semangat belajar seumur hidup — sebuah kemampuan esensial di era ketika kita tidak lagi bisa mengidentifikasi diri hanya melalui satu profesi.
Selain itu, semakin mendesak kebutuhan untuk memperluas akses pendidikan untuk semua, menghadirkan pendidikan yang kontekstual, serta mendukung proses penemuan jati diri anak yang semakin penting di masa kini.
Konferensi ini juga berupaya membuka ruang diskusi seluas-luasnya, melibatkan bukan hanya pegiat pendidikan, tetapi juga peneliti, pengusaha, pelaku industri, investor, guru, pemerintah, budayawan, komunitas kolektif, masyarakat adat, kaum marjinal, sekolah, hingga pesantren.
Tahun ini, APDEC 2025 akan dihadiri partisipan internasional dari Korea Selatan, Jepang, India, Nepal, Australia, New Zealand, Taiwan, Singapura, Malaysia, hingga Thailand.
Kehadiran mereka membuka peluang belajar lintas negara. Taiwan, misalnya, dikenal sebagai salah satu negara paling progresif dalam mendukung pendidikan alternatif dan eksperimental, dengan kebijakan yang memungkinkan pendekatan belajar yang beragam dan inovatif.
Di Korea Selatan, beberapa pemerintah daerah bahkan membiayai sepenuhnya pendirian sekolah demokratis dan eksperimental, sebagai strategi akselerasi transformasi pendidikan untuk menciptakan warga yang lebih adaptif dan kreatif.
Di Jepang, banyak sekolah alternatif berkolaborasi erat dengan jaringan koperasi setempat, sehingga lulusan sekolah dapat langsung berdaya, bekerja, dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Dalam forum ini, Indonesia juga akan memperkenalkan tokoh-tokoh pendidikan progresif seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, yang sudah sejak dulu menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, kontekstual, dan berpusat pada perkembangan karakter anak. Pemikiran mereka terbukti masih sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang.
Monika Irayati, Ketua Penyelenggara APDEC 2025 dan Presidium Jaringan Pendidikan Alternatif Indonesia, menyatakan bahwa "APDEC 2025 adalah ruang pertemuan lintas batas untuk bersama-sama merumuskan arah pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan selaras dengan nilai-nilai keberagaman serta kebutuhan masa depan. Bukan sekadar membicarakan sistem, tapi juga bagaimana kita memanusiakan proses belajar."
Senada dengan itu, Wahyaningsih, pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, menekankan pentingnya kembali ke akar, yakni belajar dari alam dan komunitas. "Kami di SALAM sudah lama meyakini bahwa alam dan komunitas adalah guru utama. Masa depan menuntut kita kembali pada akar: belajar dari alam, belajar bersama komunitas, dan menghargai keunikan setiap anak," ujarnya.
Dilla dari Sokola Institute juga menambahkan bahwa konteks nyata adalah kunci pembelajaran bermakna. "Anak-anak di komunitas adat dan masyarakat marjinal menunjukkan kepada kita bahwa pembelajaran yang paling bermakna lahir dari keseharian, dan dari hubungan yang penuh rasa saling percaya.
APDEC menjadi momen penting untuk memperjuangkan pendidikan yang relevan untuk semua," jelasnya.
Sementara itu, Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, mengingatkan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari masa depan pendidikan. "Pendidikan masa depan tidak hanya soal teknologi dan inovasi, tapi juga tentang menjaga nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan keberagaman. Pendidikan harus menjadi ruang aman untuk semua anak agar mereka tumbuh sebagai warga yang utuh dan peduli," tegasnya.
APDEC 2025 diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan refleksi bersama untuk merumuskan arah baru
pendidikan — agar semakin inklusif, relevan, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.