Jakarta, INDONEWS.ID - Memperoleh pengetahuan dan mengembangkan bakat itu bisa dimana saja tak harus di sekolah formal, seperti Drew Prawiro Wicaksono meninggalkan sekolah formal dan memilih belajar di demokrasi pendidikan (non formal). Bahkan bakat seninya makin berkembang, awalnya melukis kini melebar ia menguasai desain grafis, sinematografi dan bermain musik.
Masuk sekolah non formal bagi Drew adalah pilihannya meski di Sekolah Dasar maupun SMP ia di sekolah formal. Keinginan dia tak belajar di sekolah formal makin menggebu saat lepas dari bangku SMP.
Menurut pengakuannya, ia enggan di sekolah formal karena banyak aturan yang harus ia jalan, ia merasa terbebani dengan peraturan di sekolah formal. Atas saran orangtua, ia pun mencari tahu sekolah apa yang tak banyak aturan, dan dirinya bisa memilih ingin mempelajari bidang apa.
"Senang dan bersyukur bisa di ekosistem pembelajaran ini, dan memang demokratis tidak cuma guru dan staf yang berhak bicara tapi murid juga. Kita meluangkan waktu untuk diskusi memnahas soal kesepakatan dan aturan-aturan", ujarnya.
Andrew (17) saat ini masuk tahun ketiga di sekolah demokrasi pendidikan, sejak usia 3 tahun ia sudah senang menggambar dan memang ada darh seni yang mengalir dalam dirinya. Ia mengaku adalah anak seorang seniman meski dirinya tak mau menyebut siapa nama ayahnya.
Selama 9 tahun belajar di sekolah formal, darah seninya seperti berhenti mengalir, lalu ia ceritakan ke orangtuanya bahwa dorongan hatinya ingin bersekolah di tempat yang bisa mengembangkan bakat seninya. Hal itu pun didukung orangtuanya, dan ia diminta mencari tahu sekolah yang bisa mengembangkan bakatnya.
Dikatakan, tahun pertama dia masuk sekolah demokrasi pendidikan merasakan perbedaan dengan sekolah formal. Selama setahun di sekolah itu, ia bersama siswa lainnya lebih sering diajak ke galeri seni, menyaksikan pameran atau dikenalkan berbagai karya seniman ternama. Dan satu lagi tak ada pelajaran matematika atau biologi, yang ada hanya pengenalan karya seni dan tanpa seragam sekolah.
Baginya, seragam itu membatasi kreatifitas, dan bebas berpakaian asal sopan. Kami tetap ada jam sekolah, dan proyek tapi itu semua fleksibel", ungkapnya.
Menariknya, proyek (PR) yang mereka kerjakan tak pun fleksibel, bila waktunya berakhir tak ada hukuman jemur di lapangan upacara, tapi lebih kearah pendekatan. Bagi yang belum menyelesaikan projek yang mereka sendiri tentukan, akan ditanyakan alasan belum selesai projeknya dan lalu diberikan solosi agar projeknya siap.
Selaku siswa Erudio, Drew sudah memiliki protofolio karya, bahkan beberapa diantaranya pernah ikut pameran. Memang tempat dia mengembangkan diri punya kerjasama dengan beberapa galeri atau komunitas pengelola even di bidang seni. Endrew pun sudah mendesain kemasan salah satu merek parfum ternama, meski ia masih setara anak SMA di sekolah umum.
Tak lama lagi ia bakal meninggalkan tempat dirinya mengembangkan bakat, dan dirinya tak kawatir bila ingin melanjutkan ke jenjang sarjana meski sekolahnya bukan di di sekolah formal. Karena Erudio pun memfasilitasi siswanya yang ingin mendapat ijazah dengan mengikuti ujian akhir seperti ujian akhir pada umumnya sekolah formal. Ujian akhir pun bukan paksaan, hanya siswa yang ingin mendapat ijazah sekolah umum saja yang ikut, yang tidak tak perlu ikut.
Selaku siswa di demokrasi pendidikan, Andrew sangat bersyukur bisa merasakan pendidikan seperti yang ia alami saat ini. Bahkan di Erudio bakat Andrew kian betkembang, yang awalnya hanya ingin bermusik, kini keinginan mendalami seni kian kuat bahkan bertambah karena sekolahnya memfasilitasi setiap bakat anak didiknya. Andrew kini mengerti sinematografi, musik, desian grafis, dan melukis maka saat meninggalkan sekolah itu ia beremcana lanjut ke Desain Komunikasi Visual. Tak perlu kawatir belajar di sekolah non formal, pengembangan diri dan bakat lebih terasah di sana untuk masa depan.