Nasional

Sinau Jazz di Kios Bakmi: Harmoni yang Lahir dari Kreativitas Yogya

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 09/08/2025 11:43 WIB


 

Oleh

Markus RA `kepra` Prasetyo*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Di sebuah sudut Yogyakarta, tepatnya di kios Bakmi Maju Tak Gentar (BMTG), bukan cuma aroma mi Jowo yang menggoda atau wangi kopi dan aneka wedang yang mengerlingkan rasa. Ada yang lebih subtil, lebih menggoda telinga dan rasa: irama jazz. Di kios bakmi ini, jazz hadir apa adanya. Tersaji  di pendopo sederhana, ditiupkan dari trombone, didentingkan dari piano elektrik, diseling petikan gitar. Di sinilah setiap Kamis malam digelar SINAU JAZZ—sebuah kegiatan rutin yang sederhana dalam kemasan, namun kaya dalam makna.

Saya tiba di BMTG sekitar pukul tujuh malam. Suasana masih lengang. Satu dua meja terisi, dan Mas Widodo—pemilik sekaligus penggerak kegiatan ini—menyambut saya dengan senyum khas orang Yogya: hangat, santai, dan bersahabat. Tak lama berselang, brubut-brubut, pengunjung berdatangan. Tua muda, mahasiswa, juga beberapa warga asing mulai mengisi area pendopo dan ruang terbuka. Tak ada tiket masuk, tak ada panggung megah. Yang ada hanya niat baik dan ruang ekspresi.

Yang menarik, para musisi tidak menunggu aba-aba resmi. Mereka langsung menyiapkan alat musik, mencari posisi, dan mengalirkan nada. Ada wajah-wajah yang sudah berpengalaman, ada pula anak-anak muda yang masih menenteng gitar sambil menunggu giliran—semacam jamming dalam nuansa pembelajaran. Inilah esensi dari sinau, kata dalam bahasa Jawa yang artinya belajar. Tapi ini bukan belajar dari nol. Yang hadir bukan pemula yang belajar notasi dasar. Ini lebih mirip dengan para pegiat musik yang tengah memperdalam intuisinya, saling mengasah dan mengisi.

Saya, yang bukan musisi, hanya penikmat musik, sempat bertanya-tanya: di mana bagian belajarnya? Tapi kemudian saya menyadari, ini bukan sinau untuk meraih `S1 Jazz`. Mungkin lebih pas disebut sebagai `bimbingan belajar S2 bahkan S3 jazz`—belajar dari harmoni, dari improvisasi, dari interaksi ekspresi para musisi yang berkolaborasi.

Mas Widodo sendiri ikut jamming dengan trombone-nya. Ia tak cuma pemilik kios, tapi sekaligus `kurator ruang kreatif` yang menyatukan kuliner, musik, dan atmosfer khas Yogya. Di tengah permainan yang kadang boleh terhenti karena nada tak klop, tidak ada cemooh. Hanya senyum, saling pandang, lalu... main lagi.

Yogyakarta memang punya sejarah panjang dengan musik dan kreativitas. Banyak musisi orkestra ternama berasal dari kota ini. Band keren legendaris Sheila on 7 pun lahir di sini. Yogya adalah rumah para seniman dan budayawan, dari pelukis, sastrawan, sampai musisi. Lebih dari itu, Yogya adalah kota yang `nakal` dalam arti positif: selalu melahirkan terobosan, melawan kebosanan, dan menciptakan ruang-ruang baru di luar pakem konvensional.

SINAU JAZZ  dan Bakmi Maju Tak Gentar adalah cermin dari itu semua. Ini bukan sekadar kegiatan musik. Ini bukan hanya kios kuliner. Ini adalah ruang perjumpaan. Antara bakmi Jowo dan musik jazz. Antara mi godhok dan lekuk liuk nada sang vokalis. Antara kesederhanaan dan njlimetnya jemari musisi.

Semoga semakin mantap jazz-nya, semakin laris bakminya.

Kp.08.08.2025

*) Markus RA `kepra` Prasetyo yang biasa dipanggil Bung Kepra atau Kepra, adalah seorang praktisi di bidang komunikasi, penyiaran dan penyelenggaraan event. Pernah menjadi pembawa acara televisi di era 90an dan pada Desember 2014 sampai April 2017 menjadi Direktur Program dan Berita TVRI.

Artikel Lainnya