Nasional

Nikmati Pekerjaanmu, Bukan Jabatanmu

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 24/09/2025 19:12 WIB


Oleh:

Markus RA `kepra` Prasetyo

Jakarta, INDONEWS.ID - Setiap kali seseorang memperoleh jabatan baru, entah itu promosi di kantor, penugasan strategis, atau bahkan sekadar lolos seleksi pada posisi yang diidamkan, euforia hampir selalu menjadi reaksi pertama. “Yes, saya jadi”.

Ucapan itu seakan meledak di udara, disambut dengan banjir ucapan selamat di media sosial, pesan pribadi, grup pertemanan, hingga tatap muka langsung di cafe terdekat. Tidak lama berselang, karangan bunga pun berdatangan. Ada dari keluarga dekat, teman lama, perusahaan, kolega jauh, bahkan orang-orang yang selama ini jarang bertegur sapa tiba-tiba muncul dan menawarkan diri untuk kembali akrab.

Fenomena itu terjadi di hadapan kita. Jabatan memang kerap dipersepsikan sebagai sebuah pencapaian sosial. Orang merasa diakui, dihargai, sekaligus memiliki gengsi baru di lingkungannya.

Dalam konteks ini, perjalanan panjang seseorang, yang dibuktikan dengan CV tebal berisi prestasi dari masa sekolah hingga organisasi kampus, dan reputasi kerja selama bertahun-tahun seolah menemukan validasi.

Namun, pertanyaan pentingnya: apakah semua itu bisa menjadi jaminan keberhasilan seseorang untuk menggapai posisi tertentu di atas sana? Sebuah loncatan ke posisi yang teramat tinggi dibandingkan dengan sebelumnya?

Di era sekarang, realitasnya tidak sesederhana itu. Gemuknya portofolio sering kali kalah oleh gemuknya komunikasi `politik`. Kedekatan dan komunikasi antara pencari jabatan dan pengambil keputusan bisa lebih menentukan. Komunikasi tersebut bisa berupa janji manis, janji untuk mengakomodasikan kepentingan tertentu atau sekadar narasi yang menenangkan hati. CV dan

catatan kinerja masa lalu diabaikan. Pada titik ini, perjalanan menuju jabatan strategis berpotensi melenceng dari arah semula. Niat awal untuk berkarya dan memberi dampak, perlahan bergeser menjadi sekadar hasrat untuk memperoleh jabatan dan menikmati fasilitas.

Bayangkan analogi sederhana ini. Seseorang sudah bersusah payah mengendarai truk gandengan dari Jakarta menuju Lampung. Namun, karena larut dalam kenyamanan perjalanan, ia baru sadar setelah sudah mengambil arah yang berlawanan, jauh tersesat hingga rest area di Jawa Timur.

Lebih ironis lagi, ketika menoleh ke belakang, muatan truk yang mestinya menjadi tujuan utama sudah tak jelas keberadaannya. Begitulah yang kerap terjadi ketika orang lebih fokus menikmati jabatan ketimbang mengemban pekerjaan.

Jabatan tinggi memang menawarkan kenyamanan. Gaji meningkat, fasilitas bertambah, ada mobil dinas, ruang kerja berpendingin, bahkan peluang perjalanan ke luar negeri. Semua itu bisa membuat orang terlena. Namun, ketika yang dinikmati hanya fasilitas, sementara esensi pekerjaan terabaikan, maka hasil kerja tentu jauh dari maksimal.

Rekrutmen besar-besaran yang diharapkan mendongkrak kinerja lembaga atau perusahaan justru berujung pada membengkaknya biaya perjalanan dinas, rapat di luar kota, atau kegiatan seremonial tanpa substansi.

Itulah sebabnya, penting untuk selalu mengingatkan: nikmatilah pekerjaannya, bukan jabatannya. Jabatan hanyalah alat, bukan tujuan. Hanya sebuah pintu masuk untuk memberi manfaat yang lebih besar, bukan kursi nyaman yang harus dipertahankan berapapun biayanya.

Orang-orang yang hanya sibuk menikmati dan menjaga jabatannya sering kali lupa bahwa ukuran sejati dari seorang profesional bukanlah seberapa tinggi kursi yang ia duduki, melainkan seberapa nyata dampak kerjanya bagi orang lain dan bagi institusi dimana ia bekerja.

Maka, setiap kali kita atau orang di sekitar kita mendapatkan posisi baru, jangan berhenti hanya pada pesta bunga, ucapan selamat, atau simbol-simbol kebanggaan. Justru saat itulah kita perlu menegaskan kembali misi awal: berkarya, melayani, dan menghadirkan perubahan nyata. Jabatan akan habis pada waktunya, tetapi karya yang ditinggalkan akan terus berbicara.

Pesan sederhana ini perlu terus digaungkan, terutama bagi mereka yang sedang berada di puncak euforia. Nikmatilah pekerjaanmu, bukan jabatanmu.

*) Markus RA `kepra` Prasetyo adalah praktisi komunikasi, penyiaran dan pelaku bisnis event. Pernah menjadi pengurus organisasi sosial, profesi dan perkumpulan alumni.

Artikel Lainnya