Jakarta, INDONEWS.ID - Tokyo Dome pada awal September itu ramai oleh ribuan pengunjung. Di tengah kerumunan, Ely Herlina tampak berdiri dengan senyum bangga. Perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu menyodorkan potongan kecil cokelat buatan tangannya kepada pengunjung asal Jepang yang penasaran.
“Dulu saya cuma bikin cokelat di dapur rumah. Rasanya seperti mimpi bisa sampai di sini,” katanya dengan mata berbinar.
Tak jauh dari stan Ely, Ria Apriani memamerkan aneka kain batik dari Garut. Sentuhan tangannya yang telaten menghasilkan motif-motif yang kini menarik perhatian kolektor mancanegara.
“Saya mulai dari nol, batik saya dulu hanya untuk pasar lokal,” ucapnya lirih. Kini, karya-karyanya terpajang di salah satu pameran kerajinan tangan terbesar di Jepang: Tokyo Handmade Marche 2025, yang digelar 6–7 September.
Keduanya hadir bukan hanya sebagai pengusaha kreatif, melainkan sebagai wajah dari 15,8 juta nasabah PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Dari modal kecil dan pendampingan usaha, Ely dan Ria menapaki jalan yang membawa mereka keluar dari lingkaran keterbatasan.
Ely, misalnya, tak hanya membuat cokelat untuk dijual. Usahanya kini mempekerjakan ibu-ibu single parent dan remaja putus sekolah di sekitar rumahnya. “Bersama-sama kami membuat produk yang bisa dikenal dunia,” ujarnya penuh semangat.
Ria pun tak kalah inspiratif. Dengan dukungan PNM, ia belajar mengelola keuangan, memoles branding, hingga memperluas pasar. Kini belasan perempuan di kampungnya ikut membatik bersamanya. “Kami bangga bisa memperkenalkan budaya Indonesia di Jepang,” katanya.
Kisah Ely dan Ria menegaskan bahwa akses permodalan bukan hanya soal menambah penghasilan. Ia menciptakan efek berlipat: membuka lapangan kerja, memberdayakan komunitas, dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menyebut keberhasilan keduanya sebagai bukti nyata kekuatan mimpi. “Kami ingin menunjukkan bahwa usaha kecil dari desa bisa bersinar di panggung dunia. Jangan pernah berhenti bermimpi, lakukan yang terbaik setiap hari. Suatu hari kerja keras itu akan membawamu ke tempat yang tak pernah terbayangkan,” ujarnya.
Di Tokyo Dome, Ely dan Ria memang tak sekadar memamerkan cokelat dan batik. Mereka membawa cerita ketabahan, kerja keras, dan mimpi yang tumbuh dari sudut-sudut kampung di Indonesia. Dari dapur rumah hingga ke panggung dunia, mereka menjadi bukti bahwa ketika semangat bertemu dengan dukungan yang tepat, mimpi perempuan Indonesia bisa menembus batas.