Jakarta, INDONEWS.ID – Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Arief Mulyadi, menegaskan pemberdayaan perempuan prasejahtera menjadi kunci dalam menciptakan dampak sosial dan ekonomi berkelanjutan. Hal itu tercermin dari kisah nyata para nasabah binaan seperti Triyulianti dan Novi yang berjuang di tengah keterbatasan demi keluarga.
“Selama 26 tahun PNM diberikan mandat oleh negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Indonesia, khususnya prasejahtera,” ujar Arief.
Di balik pernyataan tersebut, tersimpan cerita perjuangan yang tak sederhana. Triyulianti, seorang ibu muda, harus menahan haru setiap hari saat meninggalkan bayinya yang baru berusia tiga bulan demi mencari nafkah sebagai pengemudi ojek online.
“Setiap hari saya harus meninggalkan anak saya yang masih umur tiga bulan,” ucapnya lirih.
Senada dengan itu, Novi, pengemudi taksi di ibu kota, bekerja dari subuh hingga larut malam demi membesarkan anak semata wayangnya. Tekadnya sederhana namun kuat: memberikan kehidupan yang lebih baik bagi sang anak.
“Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” katanya.
Kisah Triyulianti dan Novi menjadi gambaran jutaan perempuan Indonesia yang memikul beban ganda—sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Mereka tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berjuang menciptakan harapan di tengah keterbatasan ekonomi.
Melalui program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), PNM hadir memberikan akses permodalan tanpa agunan, pendampingan usaha, serta pelatihan literasi keuangan dan keterampilan wirausaha. Program ini dirancang tidak sekadar memberi pinjaman, tetapi membangun kemandirian dan kapasitas usaha perempuan prasejahtera.
Salah satu kekuatan Mekaar terletak pada sistem tanggung renteng atau group lending. Para nasabah tergabung dalam kelompok kecil yang saling mendukung, baik dalam pengembangan usaha maupun menghadapi kendala pembayaran. Pendampingan rutin oleh petugas PNM juga memastikan usaha berjalan berkelanjutan.
Dalam skema syariah, pembiayaan dilakukan tanpa bunga dengan akad sesuai prinsip Islam, seperti murabahah dan wakalah. Meski demikian, pola pendampingan dan pemberdayaan tetap menjadi inti utama program.
Sementara itu, EVP Pengembangan & Jasa Manajemen PNM, Razaq Manan Ahmad, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi.
“Stronger the women, stronger the nation. Perempuan merupakan motor penggerak utama dalam menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, mayoritas pembiayaan PNM saat ini telah berbasis syariah dan diiringi dengan pendampingan intensif agar nasabah mampu berkembang secara terarah.
Kisah Triyulianti, Novi, dan jutaan perempuan lainnya menunjukkan bahwa akses terhadap pembiayaan dan pendampingan bukan hanya mengubah kondisi ekonomi, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan ketahanan keluarga. PNM pun menegaskan komitmennya untuk terus memperluas dampak pemberdayaan bagi perempuan Indonesia.