Jakarta, INDONEWS.ID – Militer Israel kembali melancarkan serangan udara dan darat ke Kota Gaza dan sekitarnya pada Sabtu (20/9), menewaskan sedikitnya 60 warga Palestina. Angka korban jiwa tersebut dikonfirmasi oleh Otoritas Kesehatan Gaza, dikutip dari Reuters, Minggu (21/9).
Serangan terbaru ini terjadi di tengah persiapan 10 negara, termasuk Australia, Belgia, Inggris, dan Kanada, yang akan menggelar pertemuan pada Senin (22/9) untuk membahas pengakuan kemerdekaan Palestina, menjelang Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat.
Menurut laporan, militer Israel menargetkan sejumlah gedung di Kota Gaza. Serangan berfokus pada wilayah Sheikh Radwan dan Tel Al-Hawa, lokasi yang kini menjadi tempat berlindung sebagian besar penduduk Gaza. Israel mengklaim telah menghancurkan hingga 20 blok menara di kota itu dalam dua pekan terakhir, seiring penguasaan di pinggiran timur Gaza.
Media Israel menyebut lebih dari 500.000 warga Gaza meninggalkan wilayah tersebut sejak awal September. Intensitas bombardir meningkat tajam sejak Selasa (16/9), setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan dukungan penuh kepada Israel dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem.
Dalam kondisi terkepung, Gaza terus berupaya bertahan. Namun, upaya diplomasi internasional untuk menghentikan kekerasan kembali menemui jalan buntu. Pada Kamis (18/9), AS menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB terhadap resolusi yang menyerukan gencatan senjata permanen dan pembebasan semua sandera di Gaza.
Washington beralasan resolusi tersebut dianggap tidak cukup menyoroti tindakan Hamas, sehingga dinilai tidak seimbang.
Dengan eskalasi serangan yang terus meningkat dan tekanan diplomatik internasional, situasi di Gaza diperkirakan akan tetap genting menjelang Sidang Umum PBB.