Nasional

Sebanyak 81% Siswa SD Alami Peningkatan Literasi Dasar Lewat Aktivitas Menulis Tangan di Atas Kertas

Oleh : very - Kamis, 30/10/2025 18:15 WIB


Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, SiDU (Sinar Dunia), dan Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) menggelar acara di Universitas Atmajaya Jakarta, Kamis (30/10/2015). (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan  kemunculan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara belajar anak-anak Indonesia, kegiatan  menulis tangan di atas kertas kembali menjadi sorotan penting.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 20 Oktober 2025 lalu, Presiden RI  Prabowo Subianto menyoroti menurunnya kebiasaan menulis tangan di kalangan siswa.

Presiden Prabowo meminta Kemendikdasmen mengembalikan pelajaran menulis tangan di sekolah serta mendorong  Kementerian Keuangan menyediakan buku tulis gratis bagi siswa, setelah melihat banyak anak  menulis terlalu kecil karena menghemat kertas.

Beliau juga menekankan bahwa pelajaran menulis  adalah masalah mendasar yang perlu ditinjau kembali penerapannya, serta merupakan sarana bagi  anak untuk berpikir kritis dan berimajinasi.

Sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap pentingnya aktivitas menulis tangan di dunia  pendidikan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, SiDU (Sinar Dunia), dan Majalah Cahaya  Inspirasi Anak (CIA) berkolaborasi melakukan penelitian yang menyoroti pengaruh menulis di  atas kertas terhadap kemampuan literasi dasar siswa sekolah dasar. 

Penelitian bertajuk “Pengaruh Aktivitas Menulis di atas Kertas terhadap Kemampuan Literasi  Peserta Didik Sekolah Dasar” ini melibatkan 2.293 siswa kelas 4 dan 5 SD di Jakarta dan  sekitarnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 81 persen peserta mengalami peningkatan kemampuan  literasi yang signifikan setelah mengikuti kegiatan menulis tangan menggunakan modul dari  Akademi Ayo Menulis SiDU.

Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa menulis tangan tidak  sekadar aktivitas motorik, tetapi juga proses kognitif yang berperan penting dalam membantu anak  memahami bacaan, memperkuat daya ingat, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan  reflektif.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berkomitmen terhadap riset, Universitas Katolik  Indonesia Atma Jaya menegaskan bahwa praktik menulis tangan harus menjadi bagian integral  dari pembelajaran dasar.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Murniati Agustian, M.Pd., menjelaskan, pihaknya  mendorong para guru, orang tua, serta pembuat kebijakan untuk memberikan ruang yang memadai  bagi kegiatan menulis tangan di atas kertas di sekolah.

”Di tengah pembelajaran yang semakin  berorientasi pada teknologi digital, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi  bersama agar kemajuan digital tidak menghapus keterampilan dasar yang membentuk daya pikir,  konsentrasi, dan kreativitas anak,” ujarnya.

 

 

Contoh Sinergi Nyata Dunia Akademik dan Industri

Kolaborasi riset ini menjadi contoh sinergi nyata antara dunia akademik dan industri dalam  memperkuat budaya literasi nasional.

SiDU (Sinar Dunia), sebagai merek buku tulis dari APP  Group, turut berperan aktif tidak hanya sebagai penyedia produk pendidikan, tetapi juga sebagai  mitra strategis yang konsisten mendukung pengembangan literasi anak-anak Indonesia.

Head of Marketing Domestic Business Unit Stationery APP Group, Arif Darmawan, menuturkan bahwa SiDU percaya bahwa menulis tangan bukan hanya membentuk keterampilan motorik, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penguasaan bahasa.

“Sayangnya, belum banyak penelitian di Indonesia yang secara khusus meninjau dampak menulis di atas kertas terhadap kemampuan literasi dasar siswa. Kami berharap hasil penelitian ini menjadi komitmen  bersama sekolah dan pemangku kebijakan untuk terus mengembalikan kegiatan menulis dengan  tangan,” katanya.

Dia mengatakan, penelitian yang telah dimulai sejak tahun 2024 ini merupakan bagian dari kegiatan Ayo Menulis  bersama SiDU. Program ini telah berjalan sejak 2017, menyediakan berbagai kegiatan seperti  pelatihan dan lomba menulis bagi siswa serta penyediaan modul menulis bagi guru guna  mendukung aktivitas menulis di atas kertas secara berkelanjutan.

Dari sisi pemerintah, hasil penelitian ini mendapat apresiasi dan dukungan positif. Muhammad  Noor Ginanjar Jaelani, S.Pd., Ketua Sub Tim Kerja Pembelajaran, Direktorat Sekolah  Dasar, Kemendikdasmen, menuturkan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini,  Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen menyambut baik inisiatif riset  kolaboratif yang menyoroti pentingnya menulis tangan di atas kertas bagi peserta didik usia dini. 

”Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, keterampilan menulis tangan tetap menjadi  fondasi utama dalam proses belajar, karena tidak hanya melatih koordinasi motorik halus, tetapi  juga memperkuat daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir kritis anak,” ujarnya.

”Kami mendukung  penuh upaya seperti yang dilakukan oleh Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Buku Tulis  SiDU, dan Majalah Cahaya Inspirasi Anak, yang sejalan dengan kebijakan untuk mengembalikan  esensi belajar yang bermakna dan berakar pada pengalaman langsung anak di kelas,” lanjutnya.

Dr. Astin Julaikhan M.Pd., Kepala Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian Bidang SD Dinas  Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, mengatakan bahwa penelitian tersebut sinkron dengan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

”Memang ada SE yang kami keluarkan tentang pembentukan karakter.  Di situ ada pembiasaan meningkatkan literasi. Makna dari literasi bukan hanya membaca,  melainkan juga menulis, khususnya menulis tangan. Berkat adanya penelitian ini bisa menjadi  rujukan pembiasaan literasi di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Kehadiran Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) sebagai mitra media dalam penelitian ini turut  memperkuat aspek komunikasi publik yang ramah anak. Majalah CIA berperan dalam  menyebarluaskan pesan literasi melalui konten inspiratif yang mudah dipahami anak-anak,  sehingga semangat menulis tangan dapat tumbuh dari budaya membaca.

Kegiatan peluncuran hasil penelitian dan gelar wicara yang diselenggarakan hari ini menjadi  momentum penting bagi dunia pendidikan Indonesia untuk merefleksikan kembali makna literasi  di era digital. Menulis tangan di atas kertas bukan sekadar aktivitas tradisional yang tersisih oleh  teknologi, melainkan praktik pembelajaran reflektif yang memperkuat hubungan antara pikiran,  emosi, dan tindakan. *

Artikel Lainnya