Jakarta, INDONEWS.ID – Setelah pemutaran perdana di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (22/2) lalu, film "Djuanda Pemersatu Laut Indonesia" kembali diputar di Kantor Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (12/11/2025).
Cucu Pahlawan Nasional, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, Ismeth Wibowo menghadiri acara penayangan film biografi tentang salah satu kisah perjuangan Pahlawan Nasional tersebut.

Pemutaran film tersebut terangkai dalam program kerja Duta Transformasi Kementerian Keuangan dan Program Pembinaan Mental Pegawai bidang Ideologi, sekaligus memperingati Hari Pahlawan 2025 di lingkungan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok.
Acara tersebut dihadiri juga oleh Kepala Kantor Pelayanan Utama Type A Bea dan Cukai Tanjung Priok, Sodikin dan para pegawai di kantor tersebut.
Ismeth hadir sebagai narasumber dalam kegiatan pembinaan mental tersebut. ”Kami berharap kehadiran dan pemaparan Bapak akan memperkuat semangat nasionalisme dan penghayatan terhadap nilai-nilai kepahlawanan,” demikian bunyi undangan dari Kantor Bea dan Cukai Tipe A, Tanjung Priok.

Ismeth mengatakan, Ir. H. Djuanda dijuluki Menteri Maraton karena 17 kali menduduki portofolio di Kabinet yang berbeda. “Pernah ditunjuk menjadi Pejabat Presiden dikala Presiden Soekarno berkunjung ke luar negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Keuangan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Perhubungan, Direktur Biro Perancang Negara (Menteri Bappenas yang pertama), Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia yang pertama, Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia yang pertama, salah satu pendiri Persatuan Insinyur Indonesia dan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia yang pertama,” ujarnya.
Dia mengatakan, Kabinet Djuanda juga dikenal sebagai Zaken Kabinet, karena diisi oleh para ahli di bidangnya masing-masing.
Kini, nama besar Ir. Djuanda diabadikan dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang transportasi udara yakni Bandara Udara Internasional di Surabaya. Selain itu, sebagai nama Gedung di Kementerian Keuangan, Taman Hutan Raya Djuanda di Bandung, nama gedung di Kementerian Pertahanan, Pusdiklat Kereta Api di Bandung, Bendungan di Jatiluhur Jawa Barat, nama jalan di berbagai kota dan gambar di uang kertas Rp.50.000.

Ir. H. Djuanda meninggal dunia pada 7 November 1963 pada usia yang relatif muda 52 tahun dalam jabatan Menteri Pertama, Jenderal TNI Tituler.
Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 29 November 1963 melalui Keputusan Presiden No.244 Tahun 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata dengan Presiden Soekarno sebagai Inspektur Upacara.
Beliau juga Sekjen Paguyuban Pasundan tahun 1929-1942 mendampingi Ketua Umum Otto Iskandar Dinata.
“Di halaman 110 buku Margono Djojohadikusumo, Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 46, Kakek dari Presiden Prabowo Subianto ada foto Bapak Prof. Sumitro Djojohadikusumo di sebelah Kakek saya Ir. H. Djuanda pada saat Konperensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda tahun 1949,” ujar Ismeth.

Pemutaran film di kantor Bea dan Cukai ini, menurut Ismeth, terjadi karena Ir. Djuanda merupakan mantan Menteri Keuangan, yang membawahi kantor Bea dan Cukai. Selain itu, Ir. Djuanda juga adalah Menteri Keuangan yang kisah hidupnya pertama kali diabadikan dalam sebuah karya film yang membawa inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Ismeth Wibowo juga mengucapkan terima kasih kepada PP Muhammmadiyah dan BCA atas dibuatnya "Film Djuanda Pemersatu Laut Indonesia" tersebut. *