Gaya Hidup

Alyne Maarif Akhirnya Buka Suara

Oleh : rio apricianditho - Minggu, 15/03/2026 19:41 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Selama ini tidak banyak yang mengetahui bahwa Alyne Maarif, seorang penyanyi sekaligus ibu dari artis cilik Niloufer Bahlwan, yang dikenal publik melalui perannya sebagai Agil dalam film Keluarga Cemara 2 serta Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta, telah lama bercerai dan menjalani kehidupan pasca perceraian di tengah konflik keluarga yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Di balik keputusan tersebut, terdapat perjalanan panjang yang diwarnai berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga, mulai dari kekerasan finansial, tekanan psikologis, hingga kekerasan fisik yang pernah ia alami dalam relasi pernikahannya.

Sebelum perceraian benar-benar terjadi, Alyne telah dua kali mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Namun setiap kali proses itu berjalan, relasi yang sarat manipulasi membuatnya kembali ke dalam hubungan tersebut. Pola relasi yang tidak sehat ini berlangsung bertahun-tahun hingga pada fase terakhir perceraian justru terjadi melalui gugatan dari pihak mantan suami.

Pada saat itu Alyne tidak berada dalam posisi dengan kekuatan hukum yang memadai. Fokus utamanya hanya satu: mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat. Ia percaya bahwa setelah perceraian terjadi, konflik akan berhenti dan masing-masing pihak dapat menjalani kehidupan secara terpisah dengan tenang. Namun kenyataannya justru berbeda.

Pasca perceraian, konflik tidak benar-benar berhenti. Alyne berusaha menjalani hidup secara normal tanpa memperpanjang pertikaian. Ia bahkan tetap membuka ruang komunikasi yang wajar demi kepentingan anak-anak, termasuk tidak pernah melarang mantan suaminya untuk datang atau bertemu dengan mereka.

Namun dalam praktiknya, pola kekerasan psikologis dan manipulasi masih terus terjadi. Tuduhan, penyalahkan, serta gaslighting terus berulang tanpa adanya refleksi dari pihak yang bersangkutan.

Situasi ini akhirnya membuat Alyne memutuskan untuk mengambil langkah tegas dengan melakukan cut off demi menjaga kesehatan mentalnya.

Setelah batas tersebut dibuat, satu-satunya akses yang tersisa untuk masuk ke dalam kehidupannya adalah melalui anak-anak. Dalam berbagai kesempatan Alyne melihat anak-anak mulai berada di tengah dinamika konflik orang dewasa.

Perjalanan ini juga berdampak serius pada kondisi psikologis Alyne. Ia pernah mengalami depresi dengan tingkat kecemasan yang sangat tinggi hingga akhirnya secara sadar mencari bantuan profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis. Ironisnya, langkah tersebut justru digunakan untuk menyerangnya secara personal melalui stigma, intimidasi, dan pelabelan yang tidak berdasar.

Di tengah berbagai tuduhan dan fitnah yang berkembang, Alyne akhirnya memutuskan untuk mencari perlindungan melalui lembaga yang berwenang. Ia datang ke LPAI untuk meminta bantuan serta perlindungan bagi anak-anaknya.

Melalui proses asesmen yang dilakukan terhadap Alyne dan anak-anaknya, LPAI kemudian mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa anak-anak sebaiknya berada bersama ibunya serta memberikan batasan agar pihak mantan suami tidak datang tanpa pengaturan yang jelas.

Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut tidak sepenuhnya diindahkan. Situasi inilah yang akhirnya membuat Alyne Maarif memutuskan untuk buka suara. Bukan untuk menciptakan konflik baru atau mencari perhatian publik, melainkan karena situasi yang dibiarkan terlalu lama justru memberi ruang bagi tindakan yang sama untuk terus berulang tanpa konsekuensi.

Selama ini Alyne dikenal memilih jalur yang tenang dan prosedural. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak ikut terseret ke dalam arus konflik terbuka di ruang publik. Sebagai seorang seniman, Alyne lebih memilih menyalurkan emosi dan pengalamannya melalui karya.

Perasaan, refleksi, dan pergulatan batin yang ia alami selama bertahun-tahun dituangkan melalui lagu, tulisan, buku, serta jurnal pribadi sebagai bentuk regulasi emosinya. Karya-karya tersebut menjadi ruang aman baginya untuk memproses pengalaman tanpa harus memperkeruh situasi.

Salah satu bentuk ekspresi tersebut juga tercermin dalam album yang ia kerjakan, termasuk album Narc, yang memuat berbagai refleksi emosional dan perjalanan batin yang ia alami selama melewati masa-masa sulit tersebut.

Namun sebagai seorang ibu, Alyne menyadari ada titik di mana ia tidak lagi bisa hanya diam dan mengekspresikan semuanya melalui karya.

Alyne juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi psikologis anak-anak. Ia melihat adanya fase pendekatan emosional yang sangat intens yang berpotensi diikuti pola manipulasi yang sama seperti yang pernah ia alami sebelumnya.

Sebagai seorang ibu, Alyne menegaskan bahwa ia tidak dapat tinggal diam melihat anak-anaknya berpotensi masuk ke dalam siklus yang sama.

Selama lebih dari satu tahun terakhir, Alyne mengaku telah mengumpulkan berbagai data serta pengamatan secara psikologis mengenai perubahan yang terjadi pada anak-anaknya. Meskipun ia yakin telah menanamkan fondasi pengasuhan yang kuat, kekhawatiran seorang ibu tetap tidak dapat diabaikan.

Langkah untuk berbicara secara terbuka ini juga bukanlah langkah pertama yang ia tempuh.

Sebelumnya Alyne telah meminta pendampingan melalui berbagai jalur perlindungan, termasuk LPAI dan UPTD PPA. Bagi Alyne, ini adalah upaya terakhir untuk memastikan keselamatan emosional serta masa depan anak-anaknya tetap terjaga.

Ia juga menegaskan bahwa apabila situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas, maka langkah hukum lanjutan bukan lagi sekadar kemungkinan. Alyne menyatakan kesiapannya untuk menempuh proses hukum secara penuh, tidak hanya dalam ranah perdata tetapi juga pidana apabila diperlukan.

Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak saya berpotensi terseret ke dalam pola yang sama yang pernah saya alami. Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat. Alyne berharap langkah ini dapat menjadi titik awal menuju penyelesaian yang lebih serius dan bertanggungjawab dengan kepentingan terbaik anak sebagai prioritas utama.

Artikel Lainnya