Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto sangat sering berkunjung ke luar negeri dengan harapan ada hasil dari diplomasi politik dan ekonomi.
Presiden Prabowo tiba di Jepang pada Minggu (29/3/2026) untuk melakukan kunjungan resmi perdananya.
Ekonom Indef, yang juga Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. mengatakan, Jepang merupakan negara yang menjadi mitra dagang Indonesia selama setengah abad dan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia selama ini.
”Karena itu, kerja sama dan hubungan ekonomi perdagangan bukan hanya harus terus dijaga tetapi harus ditingkatkan. Jepang sebagai mitra dagang utama sangat potensial untuk memajukan perdagangan luar negeri Indonesial,” ujar Didik dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat saling menguntungkan. Kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing.
Sementara itu, kata Didik, perdagangan dengan mitra dagang lainnya, seperti Cina, bersifat substitusi, saling menggantikan dan saling menegasi sehingga cenderung bersaing saling mematikan dan merugikan yang lemah - dalam hal ini Indonesia.
”Sifat hubungan dagang dengan Cina saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis. Indonesia dan Cina memiliki produk-produk ekspor pertanian, pangan dan perkebunan yang sama. Sama dengan Indonesia, Cina juga mengekspor barang industri manufaktur seperti tekstil, elektronik dan lainnya,” katanya.
Menurut Didik, Hubungan dagang yang saling mensubstitusi seperti ini bermasalah bagi Indonesia karena produk dan industri domestik kalah bersaing karena harganya murah.
Deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini. Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus defisit dan juga muncul tekanan pada industri UMKM yang berubah menjadi distributor barang impor Cina.
Didik mengatakan, berbeda dangan ekonomi Cina, ekonomi Jepang memang tumbuh rendah tetapi skala ekonominya masih sangat besar dan raksasa. Ekonomi Japang adalah ekonomi yang besar bersama dengan ekonomi AS, Cina, India, Jerman dan lainnya.
”Jadi dengan kunjungan Presiden Prabowo, tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan,” kata Didik.
Menurut Didik, tim ekonomi Indonesia pasca kunjungan harus bisa merancang promosi kerja sama dengan Jepang karena sifat yang komplementer dan saling menguntungkan tersebut.
Dari Indonesia, katanya, Jepang melakukan impor energi seperti batubara, LNG, produk pertanian, perikanan dan sebagainya. Sedangkan ekspor Jepang ke Indonesia berupa mesin-mesin, barang teknologi tinggi dan investasi iindustri.
”Perdagangan komplementer seperti ini lebih menguntungkan dan bermakna ekonomi karena terjadi penguatan value chain keduanya dimana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global. Dampaknya, ada transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri dan penguatan manufaktur (otomotif, elektronik),” pungkas Didik. *