Jakarta, INDONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung mengungkap penyebab fenomena hujan es disertai angin kencang yang melanda Kota Bandung pada Jumat (3/4/2026). Peristiwa cuaca ekstrem ini menyebabkan puluhan pohon tumbang, bahkan sebagian menimpa rumah warga dan kendaraan.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa hujan es terjadi akibat masa peralihan musim hujan ke kemarau atau pancaroba. Pada awal April 2026, wilayah Bandung dan sekitarnya masih berada dalam fase transisi tersebut.
“Pada masa pancaroba, dominasi angin baratan mulai melemah dan digantikan angin timuran. Kondisi ini memicu ketidakstabilan atmosfer serta pertumbuhan awan Cumulonimbus yang masif,” ujarnya.
Awan Cumulonimbus atau awan badai ini, lanjut Teguh, terbentuk akibat arus udara naik yang kuat. Fenomena ini biasanya ditandai dengan cuaca panas atau gerah sehari sebelumnya, lalu diikuti hujan lebat mendadak, petir, serta angin kencang.
Ia menambahkan, hujan es terbentuk ketika uap air yang terbawa ke puncak awan mengalami pembekuan akibat suhu sangat dingin. Butiran es kemudian jatuh ke permukaan ketika arus udara tak lagi mampu menahannya.
“Hujan es terjadi dalam waktu singkat, dengan ukuran butiran bisa mencapai 5 mm hingga lebih dari 15 cm,” jelasnya.
Berdasarkan data BMKG Bandung, pembentukan awan Cumulonimbus mulai terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Peringatan dini cuaca ekstrem juga telah dikeluarkan sejak pukul 13.30 WIB hingga 16.00 WIB untuk wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya.
BMKG mencatat kecepatan angin saat kejadian mencapai 42,6 km/jam. Dampaknya, sejumlah wilayah di Bandung mengalami pohon tumbang dan kerusakan bangunan.
Selain di Kota Bandung, fenomena serupa juga terjadi di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) beberapa hari sebelumnya, tepatnya Senin (30/3/2026). Hujan deras disertai butiran es dilaporkan turun di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong.
Seorang warga, Yeni, mengaku sempat merekam hujan es berukuran kelereng yang turun setelah langit menggelap dan angin kencang menerjang.
“Iya hujan es, awalnya mendung dulu. Langitnya gelap banget, terus ada angin kencang,” tuturnya.
Angin kencang juga dilaporkan merusak atap rumah warga di wilayah tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba. Warga diminta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rentan saat hujan lebat dan angin kencang terjadi.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta kerusakan akibat angin kencang dan hujan es.*