Nasional

Multidiplomasi sebagai Wajah Baru Spirit Bandung: Membangun Kolaborasi Asia-Afrika Abad ke-21

Oleh : very - Senin, 06/07/2026 20:55 WIB


Mengusung tema "Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika untuk Generasi Muda dan Jakarta Kota Global: Solidaritas, Multidiplomasi, dan Multinarasi Sejarah Dunia," festival ini menghadirkan ruang dialog yang memperluas makna diplomasi sebagai kerja sama multidimensi yang mencakup pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, inovasi perkotaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan hubungan masyarakat antarbangsa. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Festival dan Pameran Konferensi Asia-Afrika 2026 mengelaborasi perkembangan diplomasi abad ke-21 yang  tidak lagi menjadi domain eksklusif hubungan antarnegara, melainkan terbuka berbagai kanal diplomasi.

Dunia yang semakin saling terhubung menuntut lahirnya paradigma multidiplomasi, yakni kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku industri kreatif, dunia usaha, media, organisasi masyarakat sipil, serta generasi muda dalam membangun solusi bersama atas berbagai tantangan global.

Mengusung tema "Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika untuk Generasi Muda dan Jakarta Kota Global: Solidaritas, Multidiplomasi, dan Multinarasi Sejarah Dunia," festival ini menghadirkan ruang dialog yang memperluas makna diplomasi sebagai kerja sama multidimensi yang mencakup pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, inovasi perkotaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan hubungan masyarakat antarbangsa.

Konsep tersebut tercermin dalam tiga forum utama yang diselenggarakan selama festival.

Forum Ekonomi Kreatif mengangkat tema "Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika Melalui Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, dan Inovasi Perkotaan", yang membahas bagaimana seni, desain, gastronomi, industri kreatif, dan teknologi berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya sekaligus penggerak pembangunan ekonomi yang inklusif.

Talkshow History bertajuk "Konferensi Asia-Afrika dan Pusaka Diplomasi Internasional Soekarno untuk Generasi Muda" mengajak peserta meninjau kembali kepemimpinan Indonesia dalam membangun solidaritas Global South. Forum ini menegaskan bahwa Spirit Bandung merupakan aset strategis diplomasi Indonesia yang tetap relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik kontemporer.

Sementara itu, Forum Sister City Pendidikan bertema "Dari Konferensi Asia-Afrika 1955 ke Abad ke-21: Sister City Pendidikan sebagai Wahana Strategis Diplomasi Kota Jakarta–Moskow" memperlihatkan berkembangnya diplomasi kota (city diplomacy) sebagai bentuk baru hubungan internasional melalui kerja sama pendidikan, penelitian, inovasi, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan sumber daya manusia.

Rektor Unika Atma Jaya, Profesor Yuda Turana menyebutkan pentingnya kolaborasi internasional yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat. “Spirit Konferensi Asia-Afrika harus diterjemahkan menjadi kerja sama riset, pertukaran mahasiswa, inovasi sosial, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara Founder Aspirasi Jakarta, Budhi Haryadi, menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab meneruskan warisan Konferensi Asia-Afrika melalui pendekatan multidiplomasi yang menghubungkan sejarah, pendidikan, inovasi, kebudayaan, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat dalam membangun Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berjejaring dengan dunia.

“Konferensi Asia-Afrika bukan hanya tentang sumber inspirasi sejarah dan memori kolektif. Ia adalah ekosistem strategis diplomasi dan ekonomi kreatif untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama antar negara-negara Asia-Afrika dengan peranan kampus, pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas untuk kemajuan bersama.”

Sedangkan Arthur Sanger, Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta menyebut keberagaman budaya menjadi nilai lebih Bangsa Asia-Afrika. "Hampir 70 tahun yang lalu, Konferensi Asia-Afrika di Bandung mengajarkan kepada dunia bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas, saling menghormati, dan menciptakan masa depan yang lebih baik," tuturnya.

Adapun Ivor Pasaribu, Ketua Perluni UAJ menyebutkan mengenai modal sosial alumni untuk menjadi simpul kolaborasi antara pendidikan tinggi, pembangunan nasional, maupun hubungan internasional. “Alumni merupakan modal sosial. Jejaring alumni adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia kampus, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan komunitas internasional untuk bersama-sama membangun masa depan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan terpisah, mantan ketua MPR RI dan ajudan Bung Karno, Sidarto Danusubroto mengingatkan tentang posisi KAA dalam diplomasi internasional Indonesia. “Spirit Bandung adalah strategic historical asset bagi Indonesia,” ujarnya.

Rangga, Co-Founder Youth for Global Solidarity menggarisbawahi pentingnya membangun ekosistem diplomasi lintas sektor dan lintas aktor dalam skema multi-level. “Diplomasi hari ini perlu mengintegrasikan peran negara, masyarakat, sektor bisnis dan ekonomi, budaya, dan pengetahuan dalam satu ekosistem strategis dan jaringan kolaboratif,” paparnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, “multidiplomasi adalah cerminan dari Spirit Bandung yang berdasarkan solidaritas, kesetaraan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan,” tutur Rangga.

Festival ini dihadiri oleh Duta Besar Palestina, Duta Besar Ethiopia, dan Konselor Kebudayaan Iran. Acara ini turut menghadirkan pameran sejarah, arsip diplomasi, seni, sastra, dan berbagai instalasi tematik yang menunjukkan bahwa diplomasi dapat tumbuh melalui narasi budaya, pengetahuan, dan kreativitas masyarakat.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa tidak lagi hanya dibangun melalui negosiasi politik, tetapi juga melalui pertukaran gagasan, karya budaya, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas komunitas.

Melalui pendekatan multidiplomasi, Festival dan Pameran Konferensi Asia-Afrika 2026 menegaskan bahwa Bandung Spirit terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Warisan tahun 1955 kini diterjemahkan menjadi gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai aktor untuk membangun perdamaian, memperkuat solidaritas Global South, dan mendorong lahirnya solusi inovatif bagi tantangan dunia abad ke-21.

Bandung bukan sekadar peristiwa sejarah. Bandung adalah gagasan yang terus bergerak, menghubungkan bangsa-bangsa melalui ilmu pengetahuan, kebudayaan, kreativitas, dan kolaborasi lintas sektor. Di tengah perubahan global yang semakin kompleks, multidiplomasi menjadi cara baru untuk menjaga agar Spirit Bandung tetap hidup dan relevan bagi masa depan dunia. *

Artikel Lainnya