Nasional

Manufaktur Kembali Ekspansi, Pemerintah Nilai Fondasi Ekonomi Nasional Kian Menguat

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 03/08/2026 20:14 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan tanda pemulihan setelah Purchasing Managers` Index (PMI) manufaktur naik ke level 50,2 pada Juli 2026. Kembalinya indeks ke zona ekspansi tersebut menjadi salah satu indikator yang dinilai memperkuat prospek ekonomi nasional, di tengah inflasi yang tetap terkendali dan membaiknya kinerja perdagangan luar negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tiga indikator ekonomi yang dirilis pada Senin (3/8), yakni inflasi, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan, mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang masih berada pada jalur positif.

"Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional," ujar Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (3/8).

PMI manufaktur yang naik dari 46,9 pada Juni menjadi 50,2 pada Juli menandai berakhirnya fase kontraksi. Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya pesanan baru yang berdampak pada kenaikan produksi. Sejumlah perusahaan juga mulai merekrut tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir guna memenuhi permintaan yang kembali meningkat.

Pemerintah menilai perbaikan rantai pasok serta meningkatnya optimisme pelaku industri turut memperkuat momentum pemulihan sektor manufaktur. Kondisi ini juga sejalan dengan penguatan PMI manufaktur kawasan ASEAN yang tercatat meningkat menjadi 52,8.

Selain sektor industri, stabilitas harga juga menjadi penopang kinerja ekonomi. Inflasi tahunan pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen atau masih berada dalam target pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Juni yang mencapai 3,34 persen.

Penurunan tekanan inflasi dipengaruhi melandainya harga sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit, seiring meningkatnya pasokan dari sentra produksi. Sementara inflasi inti tetap berada pada level yang terkendali, mencerminkan ekspektasi masyarakat terhadap harga yang masih stabil.

Di sektor perdagangan luar negeri, kinerja Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan masih membukukan surplus kumulatif sebesar 3,58 miliar dolar AS. Pada Juni, defisit perdagangan bulanan menyusut menjadi 450 juta dolar AS dari 1,61 miliar dolar AS pada Mei.

Perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya surplus perdagangan nonmigas menjadi 3,04 miliar dolar AS serta mengecilnya defisit sektor migas. Di sisi ekspor, produk minyak sawit dan turunannya serta industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan, sementara impor masih didominasi bahan baku dan barang modal yang dinilai mencerminkan aktivitas investasi dan produksi yang tetap berjalan.

Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan di sektor pangan, energi, dan industri. Langkah yang ditempuh antara lain menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar dan distribusi pangan, memperkuat cadangan beras pemerintah, memperluas pembiayaan sektor pertanian, hingga mempercepat implementasi program biodiesel B50 sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.

Pemerintah optimistis kombinasi inflasi yang terkendali, pulihnya aktivitas manufaktur, serta membaiknya kinerja perdagangan akan menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan pada paruh kedua tahun 2026.

Artikel Lainnya