Opini

LAUT, SPIRITUALITAS, DAN KEKUASAAN NUSANTARA

Oleh : luska - Kamis, 13/08/2026 15:33 WIB


LAUT, SPIRITUALITAS, DAN KEKUASAAN NUSANTARA

Dari Kwan Im, Kosmologi Bali, Ratu Kidul hingga Presiden Indonesia


Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol


Baca juga : TABIR ALAM SEMESTA

Jakarta, 13 Agustus 2026


CATATAN METODOLOGIS


Tulisan ini membahas sejarah, tradisi, mitologi dan narasi spiritual sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan Nusantara. Fakta sejarah, tradisi keagamaan, legenda, kesaksian dan teori konspirasi dibedakan berdasarkan jenis serta kekuatan sumbernya.


Pernyataan mengenai dunia supranatural tidak diperlakukan sebagai fakta empiris tanpa bukti yang dapat diverifikasi. Tujuannya bukan membuktikan atau menyangkal keyakinan tertentu, melainkan memahami bagaimana manusia memberi makna kepada alam, spiritualitas dan kekuasaan.


PROLOG


LAUT YANG TIDAK PERNAH SEKADAR LAUT


Indonesia adalah negara kepulauan. Jauh sebelum nama Indonesia lahir, laut telah menjadi jalan perdagangan, migrasi, peperangan, penyebaran agama dan pertukaran kebudayaan.


Namun bagi masyarakat Nusantara, laut tidak selalu dipahami hanya sebagai bentangan air.


Laut memberi kehidupan sekaligus menghadirkan bahaya. Dari pengalaman panjang menghadapi alam lahirlah ritual, simbol dan berbagai keyakinan mengenai kekuatan yang tidak kasatmata.


Dari sinilah muncul pertanyaan menarik.


Mengapa berbagai peradaban maritim mempunyai figur spiritual yang berhubungan dengan laut?


Di dunia Buddhis dikenal Avalokiteśvara, yang dalam perkembangan Asia Timur dikenal sebagai Guanyin atau Kwan Im. Bali mempunyai kosmologi segara. Jawa mengenal Kanjeng Ratu Kidul.


Apakah semuanya berhubungan?


Ataukah kebudayaan yang berbeda melahirkan simbol yang mirip karena sama-sama hidup menghadapi kekuatan laut?


Pertanyaan itulah yang membawa kita menelusuri hubungan antara laut, spiritualitas dan kekuasaan.



LAUT, KWAN IM DAN KOSMOLOGI NUSANTARA


Dalam Buddhisme Mahayana, Avalokiteśvara dikenal sebagai Bodhisattva welas asih. Dalam perkembangan Buddhisme di Tiongkok, figur tersebut dikenal sebagai Guanyin atau Kwan Im.


Dalam perjalanan sejarahnya berkembang pula tradisi Nanhai Guanyin—Guanyin Laut Selatan. Guanyin juga diasosiasikan dengan pertolongan dan keselamatan ketika manusia menghadapi bahaya, termasuk dalam perjalanan laut.


Tetapi istilah “Laut Selatan” dalam tradisi tersebut tidak otomatis berarti Laut Selatan Jawa.


Di Nusantara, jejak Avalokiteśvara telah ditemukan dalam lingkungan Buddhisme Jawa kuno. Ini menunjukkan bahwa tradisi religius yang menjadi akar historis Guanyin telah mencapai Nusantara jauh sebelum munculnya Mataram Islam.


Bali mempunyai perjalanan berbeda.


Dalam kosmologi Hindu Bali, laut atau segara mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan ritual. Laut berkaitan dengan penyucian, tempat-tempat suci pesisir serta hubungan manusia dengan alam.


Bali juga tidak dapat dipahami sebagai peradaban yang baru terbentuk setelah Majapahit.


Hubungan Bali–Jawa telah berlangsung berabad-abad sebelumnya. Sekitar abad ke-10 hingga awal abad ke-11, Raja Udayana Warmadewa dan permaisurinya Mahendradatta menghubungkan dinasti Bali dengan Jawa Timur. Dari keluarga inilah lahir Airlangga, yang kemudian menjadi raja penting di Jawa Timur.


Beberapa abad kemudian, Majapahit semakin memperkuat hubungan Jawa–Bali. Pada masa berikutnya, perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Jawa menuju Bali juga menjadi bagian penting dalam tradisi keagamaan dan kebudayaan Bali.


Dengan demikian, Bali merupakan ruang tempat berbagai lapisan peradaban bertemu: tradisi lokal, Hindu-Buddha, Jawa dan jaringan maritim Asia.


Di sinilah pertanyaan mengenai Kwan Im harus ditempatkan secara hati-hati.


Dalam penelusuran sumber sejarah dan keagamaan yang digunakan tulisan ini, belum ditemukan dasar yang menunjukkan adanya hierarki Kwan Im–Ratu Kidul–figur penguasa laut Bali.


Yang lebih terlihat justru proses perjumpaan, penyerapan dan sinkretisme antartradisi.


Kesamaan simbol tidak otomatis berarti kesamaan tokoh.


Dan perjumpaan budaya tidak otomatis membuktikan adanya satu struktur kekuasaan spiritual.



RATU KIDUL, PARANGTRITIS DAN LEGITIMASI KEKUASAAN JAWA


Di Jawa, hubungan antara laut, spiritualitas dan kekuasaan memperoleh bentuk yang sangat kuat dalam tradisi Mataram.


Panembahan Senapati atau Danang Sutawijaya adalah tokoh sejarah dan pendiri Mataram Islam. Namun perjalanan kekuasaannya juga hidup dalam legenda Jawa.


Salah satu pusat legenda tersebut berada di pesisir selatan Yogyakarta:


Parangtritis dan Parangkusumo.


Keduanya perlu dibedakan.


Parangtritis merupakan kawasan yang lebih luas, sedangkan Parangkusumo merupakan salah satu titik penting dalam bentang budaya kawasan tersebut.


Di Parangkusumo terdapat Cepuri Parangkusumo, dengan Selo Ageng dan Selo Sengker yang menurut tradisi dikaitkan dengan Panembahan Senapati dan Kanjeng Ratu Kidul.


Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, kisah pertemuan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul ditempatkan dalam wilayah legenda. Dalam kisah tersebut, penguasa Laut Selatan menjanjikan dukungan kepada Senapati dan keturunannya.


Namun Labuhan Parangkusumo merupakan tradisi budaya yang nyata dan diwariskan hingga sekarang.


Tradisi Yogyakarta juga menunjukkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul dan Nyai Rara Kidul tidak selalu dipahami sebagai tokoh yang sama. Karena itu berbagai nama figur Laut Selatan tidak seharusnya dipertukarkan begitu saja.


Yang terpenting bukan membuktikan apakah perjumpaan supranatural itu benar-benar terjadi.


Yang perlu dipahami adalah mengapa cerita tersebut mampu bertahan selama berabad-abad.


Dalam konsepsi kekuasaan Jawa, seorang raja tidak hanya membutuhkan tentara, wilayah dan kemampuan politik. Kekuasaan juga memperoleh bahasa simbolik melalui wahyu keprabon, leluhur, alam dan keseimbangan kosmis.


Dari sinilah terbentuk poros yang kuat dalam imajinasi kebudayaan Jawa:


MERAPI — KERATON YOGYAKARTA — PARANGTRITIS/PARANGKUSUMO — LAUT SELATAN.


Gunung berada di utara.


Keraton berada di tengah.


Samudra berada di selatan.


Penguasa secara simbolik ditempatkan di tengah hubungan antara manusia, alam dan tatanan kehidupan.


Karena itu Kanjeng Ratu Kidul tidak cukup dipahami sebagai tokoh cerita mistik atau horor. Ia juga merupakan bagian dari memori budaya mengenai alam dan legitimasi kekuasaan Jawa.


Kemudian Indonesia berubah menjadi republik.


Presiden tidak memperoleh kekuasaan dari wahyu keprabon. Secara konstitusional, sumber legitimasi kekuasaan telah berubah.


Namun perubahan sistem politik tidak otomatis menghapus ingatan masyarakat.


Negara boleh berganti dari kerajaan menjadi republik, tetapi ingatan peradaban tidak selalu ikut berganti.


Di sinilah kisah Laut Selatan memasuki babak baru.


Bukan lagi bersama seorang raja Mataram.


Melainkan bersama seorang Presiden Republik Indonesia.



SUKARNO, SOEHARTO DAN MITOLOGI KEKUASAAN REPUBLIK


Sukarno adalah insinyur, pemimpin revolusi dan Presiden pertama Republik Indonesia. Namun ia juga mempunyai perhatian besar terhadap sejarah, seni, kebudayaan dan kekuatan simbol.


Di pesisir Pelabuhan Ratu berdiri Samudra Beach Hotel, proyek pariwisata yang dibangun pada masa Sukarno.


Di dalamnya kemudian terkenal Kamar 308, yang diasosiasikan dengan Nyi Roro Kidul.


Keberadaan kamar tersebut dan asosiasinya dengan penguasa Laut Selatan telah menjadi bagian dari tradisi budaya. Namun cerita bahwa Sukarno secara khusus mempersiapkan kamar tersebut berdasarkan suatu hubungan atau perjanjian spiritual berasal dari penuturan dan legenda, sehingga tidak dapat ditempatkan setara dengan fakta sejarah.


Demikian pula cerita bahwa Ratu Kidul meninggalkan Sukarno karena ia semakin dekat dengan Muhammadiyah.


Kronologinya justru berbicara lain.


Sukarno telah menjadi anggota Muhammadiyah sejak 1938 ketika berada di Bengkulu dan pernah memimpin bidang pendidikan Muhammadiyah. Bahkan ketika telah menjadi Presiden, hubungan tersebut tetap ia akui. Karena itu klaim mengenai perubahan hubungan supranatural akibat Sukarno “baru mendekati Muhammadiyah” tidak sesuai dengan kronologi sejarah.


BATUTULIS DAN BLITAR


Sukarno wafat pada 21 Juni 1970.


Terdapat berbagai riwayat mengenai keinginannya tentang tempat peristirahatan terakhir, termasuk Batutulis, Bogor. Namun pemerintah pada masa Presiden Soeharto menetapkan Blitar sebagai tempat pemakamannya.


Perbedaan antara keinginan Sukarno dan keputusan negara merupakan persoalan sejarah yang dapat diteliti.


Adapun berbagai cerita yang kemudian menghubungkan keputusan tersebut dengan pertimbangan kekuatan spiritual di Batutulis belum didukung bukti primer yang memadai. Karena itu cerita tersebut tetap berada dalam wilayah narasi atau mitologi politik, bukan fakta mengenai motif keputusan negara.


SOEHARTO DAN IBU TIEN


Setelah Sukarno, tampil Soeharto.


Soeharto tumbuh dalam lingkungan kebudayaan Jawa. Istrinya, Siti Hartinah atau Ibu Tien, mempunyai hubungan keluarga dengan lingkungan bangsawan Mangkunegaran.


Dari latar tersebut berkembang berbagai cerita mengenai Soeharto, Ibu Tien, kebatinan Jawa dan Kanjeng Ratu Kidul.


Hubungan elite Indonesia dengan tradisi kebatinan merupakan fenomena sosial-budaya yang dapat diteliti.


Namun cerita bahwa Ibu Tien secara literal menjadi penghubung antara Soeharto dan Ratu Kidul belum mempunyai pembuktian sejarah yang memungkinkan kita menyatakannya sebagai fakta.


Lebih ekstrem lagi adalah teori bahwa Ratu Kidul memindahkan dukungannya dari Sukarno kepada Soeharto dan meminta korban manusia sebagai syarat kekuasaan.


Di sinilah batas harus ditarik tegas.


Kekerasan massal 1965–1966 merupakan tragedi kemanusiaan dan sejarah yang nyata.


Menghubungkan korban tragedi tersebut dengan “tumbal” bagi kekuasaan spiritual tidak mempunyai dasar pembuktian historis dan tidak dapat digunakan sebagai penjelasan sejarah.


ISLAM DAN AKHIR ORDE BARU


Pada penghujung 1980-an dan awal 1990-an, hubungan Soeharto dengan kelompok-kelompok Islam mengalami perkembangan penting.


ICMI berdiri pada Desember 1990, sedangkan Soeharto menunaikan ibadah haji pada 1991.


Urutan waktunya penting. Perubahan hubungan politik Soeharto dengan kelompok Islam merupakan proses yang lebih kompleks dan tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu peristiwa.


Ketika Ibu Tien wafat pada 28 April 1996, berkembang pula cerita bahwa Soeharto kehilangan penghubung atau perlindungan spiritualnya.


Tetapi jatuhnya Orde Baru pada 1998 mempunyai faktor-faktor historis yang konkret: krisis finansial Asia, jatuhnya nilai rupiah, tekanan ekonomi, demonstrasi mahasiswa, keretakan elite dan krisis legitimasi politik.


Cerita mengenai hilangnya “perlindungan spiritual” dapat dipelajari sebagai mitologi politik, tetapi bukan sebagai pengganti penjelasan sejarah.


Dari sini muncul pola yang menarik.


Panembahan Senapati dikisahkan memperoleh dukungan Ratu Kidul.


Berabad-abad kemudian Sukarno diasosiasikan dengannya.


Kemudian muncul cerita serupa mengenai Soeharto.


Tokohnya berubah. Sistem negaranya berubah. Tetapi struktur ceritanya mempunyai kemiripan:


pemimpin — kekuatan spiritual — legitimasi — kejayaan — hilangnya keseimbangan — keruntuhan.


Mungkin yang diwariskan bukan hubungan gaib antarpenguasa.


Yang diwariskan adalah cara manusia menceritakan kekuasaan.



NEGARA MODERN DAN INGATAN PERADABAN


Reformasi membawa Indonesia menuju demokrasi yang semakin terbuka.


Pemilu langsung, survei, quick count, konsultan politik, media sosial, data dan teknologi menjadi bagian dari perebutan kekuasaan.


Namun dunia spiritual tidak sepenuhnya menghilang dari kehidupan politik.


Berbagai kajian sosial-politik masih mencatat adanya kandidat atau politisi yang mendatangi tempat keramat, mencari penasihat spiritual, menjalankan ritual tertentu atau berkonsultasi dengan paranormal.


Fenomena tersebut tidak membuktikan bahwa kekuatan supranatural menentukan hasil pemilu.


Tetapi ia menunjukkan sesuatu yang penting:


rasionalitas modern dan kepercayaan tradisional dapat hidup berdampingan dalam diri manusia yang sama.


Seorang kandidat dapat membaca survei sekaligus menjalankan ikhtiar spiritual.


Seorang pejabat dapat menggunakan teknologi modern tetapi tetap menghormati tradisi leluhur.


Politik memang merupakan dunia ketidakpastian.


Seseorang dapat mempunyai partai, modal, jaringan dan elektabilitas tinggi—tetapi tetap kalah.


Seorang pemimpin dapat mempunyai kekuasaan sangat besar—tetapi suatu hari kehilangan semuanya.


Ketika manusia menghadapi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, sebagian mencari kepastian melalui ruang spiritual.


Namun satu batas penting harus dipertahankan.


Agama, spiritualitas, kebatinan, tradisi budaya dan perdukunan bukanlah hal yang sama.


Semuanya dapat bersinggungan, tetapi tidak boleh dicampuradukkan.


Karena itu pertanyaan akhir tulisan ini bukan lagi:


“Apakah Ratu Kidul menentukan siapa yang menjadi Presiden Indonesia?”


Tidak terdapat bukti sejarah yang memungkinkan kita mengatakan demikian.


Pertanyaan yang lebih penting adalah:


“Mengapa manusia modern masih menggunakan bahasa spiritual untuk memahami kekuasaan?”


Jawabannya membawa kita kembali kepada perjalanan panjang Nusantara.


Kerajaan telah berubah menjadi republik.


Tradisi lama hidup berdampingan dengan teknologi digital.


Keyakinan spiritual bertemu dunia survei, data dan kecerdasan buatan.


Legenda bertemu sejarah.


Mitologi bertemu konstitusi.


Tetapi manusia tetap membawa ingatan peradabannya.


PENUTUP


KEKUASAAN DAN BATAS MANUSIA


Perjalanan dari Avalokiteśvara dan Kwan Im, kosmologi Bali, Parangtritis–Parangkusumo, Kanjeng Ratu Kidul, Mataram, Sukarno, Soeharto hingga politik modern tidak membuktikan adanya satu kekuasaan spiritual yang mengendalikan Indonesia.


Yang ditemukan justru sesuatu yang lebih menarik.


Peradaban tidak berkembang dengan selalu menghapus masa lalunya.


Lapisan baru tumbuh di atas lapisan lama.


Agama, kerajaan, kolonialisme, republik, demokrasi dan teknologi datang silih berganti, sementara sebagian simbol lama tetap bertahan dalam ingatan masyarakat.


Karena itu mitologi tidak perlu diperlakukan sebagai fakta sejarah agar mempunyai arti.


Legenda dapat menunjukkan bagaimana masyarakat memahami alam. Ritual dapat menunjukkan bagaimana manusia menjaga ingatan. Cerita mengenai dunia spiritual dapat menunjukkan bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang tidak sepenuhnya mampu dikendalikannya.


Kekuasaan dapat diperoleh.


Teknologi dapat dikuasai.


Data dapat dihitung.


Tetapi manusia tetap tidak sepenuhnya mampu mengendalikan alam, waktu, kehidupan, kematian dan masa depan.


Mungkin karena itulah dunia spiritual terus memperoleh ruang dalam perjalanan manusia.


Bukan sebagai pengganti sejarah.


Bukan sebagai pengganti ilmu pengetahuan.


Melainkan sebagai bagian dari cara manusia mencari makna.


Pada akhirnya, tugas kita bukan menertawakan sesuatu yang belum dapat kita pahami.


Tetapi juga bukan mengubahnya menjadi fakta sebelum tersedia bukti.


Menghormati misteri dan menjaga nalar bukanlah dua hal yang harus saling meniadakan.


Dan mungkin di situlah pelajaran terbesar tentang kekuasaan:


semakin besar kekuasaan manusia, semakin penting ia menyadari batas dirinya.


SELESAI


Jakarta, 13 Agustus 2026

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

Artikel Lainnya