Jakarta, INDONEWS.ID - Isu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan meninggalkan Partai Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendapat respons dari internal Gerindra.
Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna mengaku belum mengetahui dasar munculnya isu tersebut. Ia juga menegaskan bahwa Dedi Mulyadi alias Demul atau KDM sebelumnya telah menyatakan dukungannya kepada Prabowo Subianto untuk memimpin Indonesia.
"Saya tidak tahu data dan variabel apa yang menduga-duga Dedi Mulyadi (Demul) mau hijrah ke PSI. Namun, ada pernyataan sanggahan secara tegas bahwa Demul membantah hal tersebut. Dalam pernyataannya, ia menghendaki Prabowo untuk memimpin Indonesia," kata Buky saat dihubungi, Senin (24/8).
Buky juga mengaku belum melihat tanda-tanda Dedi Mulyadi akan meninggalkan Gerindra. Menurut dia, Dedi masih merupakan kader Gerindra dan memiliki posisi strategis di partai.
"Bagaimanapun, ia adalah kader Gerindra dan menjabat sebagai Dewan Pembina di Gerindra Pusat. Ini menunjukkan kualitas moral dan etika yang kuat. Jadi, beberapa kali saya bertemu dengan Demul, saya belum melihat tanda-tanda ke arah sana. Saya juga merasa aneh dengan keriuhan ini," ujarnya.
Gerindra Nilai Dedi Bukan Cari Simpati
Buky turut menepis anggapan bahwa aktivitas Dedi Mulyadi yang kerap berkeliling ke berbagai daerah, termasuk di luar Jawa Barat, merupakan upaya mencari simpati politik.
Salah satu aktivitas yang kemudian dikaitkan dengan isu kepindahan Dedi ke PSI adalah kunjungannya ke Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah wilayah tersebut dilanda gempa besar.
Menurut Buky, aktivitas Dedi tersebut justru merupakan bagian dari karakter pribadinya yang senang turun langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat.
"Dia aktif berkeliling dan bukan tipikal pemimpin di belakang meja. Saya melihat dia memang sosok yang seperti itu. Dia adalah sosok yang perasaannya mudah tersentuh—dia sendiri sering menyampaikan bahwa dirinya mudah tersentuh—lalu mencoba menyelesaikan masalah tersebut," kata Buky.
Ia menilai bantuan yang diberikan Dedi kepada masyarakat terdampak bencana juga tidak berbeda dengan langkah sejumlah kepala daerah lainnya.
"Beberapa gubernur juga memberikan bantuan, seperti dari DKI Jakarta atau Jawa Timur, tetapi itu murni atas dasar aspek kemanusiaan," ujarnya.
PSI Juga Bantah Ada Komunikasi
Isu Dedi Mulyadi akan bergabung dengan PSI sebelumnya juga dibantah oleh Dewan Pimpinan Pusat PSI. Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus mengatakan hingga kini tidak ada komunikasi antara PSI dan Dedi Mulyadi terkait rencana kepindahan politik tersebut.
"Kalau sebagai Ketua Bidang Politik, saya enggak mungkin enggak tahu kalau ada hal-hal begitu. Tapi ini saya enggak tahu," kata Bestari saat dihubungi, Senin (24/8).
Ia bahkan mempertanyakan sumber munculnya isu tersebut.
"Enggak ada itu. Sumber isunya pun enggak ada yang tulis siapa gitu. Jadi ada yang lempar bola liar aja kali ya? Enggak ada di kita," imbuhnya.
Bestari juga membantah PSI tengah berupaya merekrut Dedi Mulyadi untuk menghadapi Pemilu 2029. Menurut dia, partainya saat ini masih berfokus pada proses verifikasi faktual di Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Enggak, kita konsentrasi hari ini sebatas lolos verifikasi faktual KPU," ujarnya.
Selain itu, Bestari menegaskan PSI masih berkomitmen mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk Pilpres 2029. Menurut dia, sikap tersebut sejalan dengan arahan Joko Widodo yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PSI.
"Kita kalau untuk Pilpres, kita kan sudah diperintah Pak Jokowi, Prabowo-Gibran dua periode. Ah, oke. Jadi kita tetap di situ saja sampai hari ini, enggak mikirin plan A plan B lagi, itu saja dulu," kata Bestari.
Dengan demikian, baik Gerindra maupun PSI sama-sama menyatakan belum mengetahui adanya rencana Dedi Mulyadi untuk berpindah partai. Isu tersebut sejauh ini masih sebatas rumor yang belum disertai konfirmasi mengenai adanya komunikasi politik antara Dedi dan PSI.