Manggarai, INDONEWS.ID - Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Flores dan Kabupaten Manggarai Timur, melumpuhkan infrastruktur serta memicu krisis kemanusiaan yang mendalam.
Ratusan bangunan yaitu rumah warga rusak berat hingga roboh. Ribuan warga terpaksa mengungsi di bawah tenda-tenda darurat akibat guncangan gempa susulan yang masih terus terjadi.
Di Kabupaten Manggarai, dampak gempa terasa amat perih dengan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan pemukiman yang masif. Salah satu wilayah terdampak paling parah adalah Desa Bangka Kuleng, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Suasana duka menyelimuti warga desa setelah reruntuhan bangunan merenggut nyawa warga lokal, termasuk seorang anak kecil dan seorang ibu lansia.
Di tengah suasana mencekam dan kepungan gempa susulan yang terjadi berulang kali, sebuah inisiatif kemanusiaan lahir dari akar rumput. Para pemuda setempat bersatu membentuk Tim Relawan Muda Desa Bangka Kuleng. Tim relasan ini dikoordinasikan oleh Emanuel Odo, seorang mahasiswa asal Bangka Kuleng yang sedang menempuh studi di Jakarta dan berada di kampung halamannya saat bencana terjadi.
Sinergi Pemuda dan Pemerintah Daerah
Tim Relawan Muda ini bergerak cepat merespons situasi tanggap darurat dengan membangun posko swadaya, mendata kerusakan serta korban, dan mengorganisasi jalur distribusi logistik.
Dalam menjalankan bantuan, tim berkolaborasi secara ketat dengan Pemerintah Desa Bangka Kuleng, otoritas daerah, serta jajaran aparat keamanan dan relawan tingkat kabupaten guna memastikan bantuan sampai dengan tepat sasaran.
"Guncangan gempa memang merobohkan rumah-rumah kami, tetapi tidak bisa merobohkan kepedulian kami terhadap sesama. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan seluruh pasokan bantuan—mulai dari makanan pokok, air bersih, hingga kebutuhan balita—terbagi secara adil dan merata kepada seluruh Kepala Keluarga tanpa ada yang terlewatkan," tegas Emanuel Odo saat ditemui di Posko Kemanusiaan Bangka Kuleng.

Selain mengurus distribusi sembako dan logistik fisik, Tim Relawan Muda yang dipimpin Emanuel juga menginisiasi kegiatan dukungan psikososial (trauma healing). Langkah ini diambil untuk meredakan ketakutan dan kecemasan mendalam yang dialami warga, terutama anak-anak dan lansia, yang terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda pengungsian yang dingin di tengah ketidakpastian gempa susulan.
Apresiasi dan Kebutuhan Mendesak
Pemerintah setempat memberikan apresiasi tinggi atas gerak cepat dan kepemimpinan para relawan muda di lapangan. Sinergi antara pemuda dan pemerintah desa dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas serta pemerataan bantuan di tengah keterbatasan sarana darurat.
Meski demikian, kondisi di lapangan masih membutuhkan perhatian dan dukungan berlanjut dari berbagai pihak eksternal, baik lembaga donor nasional maupun internasional.
Pasokan logistik, obat-obatan dasar, selimut, terpal, serta fasilitas sanitasi darurat menjadi kebutuhan paling mendesak bagi para pengungsi di Bangka Kuleng dan kawasan terdampak lainnya di Manggarai.
Melalui sinergi kepemimpinan muda dan pemerintah lokal, Desa Bangka Kuleng menjadi simbol ketangguhan masyarakat lokal Flores dalam menghadapi salah satu bencana geologi terbesar yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur tahun ini. *