S&P Pertahankan Rating Utang Indonesia di Level BBB, Airlangga: Bukti Dunia Percaya Ekonomi RI
Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mempertahankan (afirmasi) peringkat utang (Sovereign Credit Rating) Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook Stabil. Keputusan tersebut menegaskan Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade, sekaligus mencerminkan kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mempertahankan (afirmasi) peringkat utang (Sovereign Credit Rating) Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook Stabil. Keputusan tersebut menegaskan Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade, sekaligus mencerminkan kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Afirmasi tersebut disampaikan S&P Global Ratings melalui publikasi Research Update bertajuk "Indonesia Ratings Affirmed At `BBB/A-2`; Outlook Stable" yang dirilis pada Senin (13/7).
Dalam laporannya, S&P menilai peringkat Indonesia didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, kebijakan makroekonomi yang prudent, serta beban utang pemerintah dan utang eksternal neto yang relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat serupa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan afirmasi tersebut menjadi sinyal positif bagi investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
"Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook Stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Pemerintah. Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5 persen, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3 persen PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," ujar Airlangga.
Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Tetap Kuat
S&P memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi riil mencapai 5,1 persen pada 2026 dan rata-rata 4,9 persen sepanjang periode 2026–2029.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan I-2026, yang didorong oleh peningkatan belanja pemerintah serta percepatan realisasi anggaran. Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 5.200 dolar Amerika Serikat pada 2026.
Disiplin Fiskal Jadi Penopang
S&P juga menyoroti komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap PDB sebagai salah satu faktor utama yang menopang outlook Stabil Indonesia.
Rekam jejak pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal dinilai memperkuat profil kredit Indonesia. Di sisi lain, penerimaan negara menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 19 persen pada lima bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya administrasi perpajakan, kenaikan penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN), serta meningkatnya royalti dan dividen dari sektor sumber daya alam.
Reformasi Sektor SDA Diapresiasi
Dalam laporannya, S&P turut memberikan perhatian terhadap reformasi tata kelola sektor sumber daya alam yang dijalankan pemerintah.
Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan efektivitas pengelolaan sektor komoditas melalui pengetatan praktik miss-invoicing dan transfer pricing. Langkah tersebut, bersama penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), dipandang mampu memperkuat posisi eksternal Indonesia dalam jangka panjang.
Selain itu, S&P menilai independensi Bank Indonesia tetap terjaga sehingga mampu menjaga inflasi tetap terkendali. Fleksibilitas nilai tukar serta bauran kebijakan moneter dinilai memberikan ruang yang memadai dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Di sektor keuangan, lembaga pemeringkat tersebut juga menilai risiko sistem perbankan terhadap pemerintah masih relatif rendah, ditopang oleh ukuran aset perbankan yang berada di bawah 60 persen PDB serta profil risiko yang tetap terkendali.
Peluang Naik Peringkat
S&P menyatakan peringkat Indonesia masih memiliki peluang untuk ditingkatkan apabila terjadi penguatan lebih lanjut pada indikator fiskal dan eksternal. Faktor yang menjadi perhatian antara lain penyempitan defisit anggaran mendekati 2 persen PDB, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.
Menutup keterangannya, Airlangga menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor, dan peningkatan produktivitas nasional.
"Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor, dan peningkatan produktivitas. Konsistensi dan prediktabilitas kebijakan akan menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia naik ke level yang lebih tinggi," kata Airlangga.
