Budaya

Night Bus Raih Predikat Film Terbaik FFI 2017, Darius Gelar Doa Bersama Anak Yatim

Oleh : luska - Kamis, 30/11/2017 20:25 WIB

Produser Night Bus Darius Sinatrihya Gelar doa bersama anak yatim di Jogglo Beer, jl Madrasah, Jeruk Purut, Jakarta Selatan.(Indonews.id/Luska)

Jakarta, INDONEWS.ID - Night Bus berhasil raih gelar Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia atau akrab disebut Piala Citra 2017 di Menado beberapa waktu lalu, Produser muda Darius Sinatrihya menggelar acara syukuran doa bersama anak anak yatim piatu dari yayasan Benih Kebajikan Nusantara Jakarta Selatan, Kamis (30/11/2017)

Syukuran sederhana yang digelar di Jogglo Beer (JB) ini juga dihadiri oleh Sutradara Night Bus Helmi Heradi dan artis para pemain, serta tamu undangan lainnya

Darius berharap acara ini dapat memberikan berkah, dan dirinnya merasa senang dapat berbagi dengan anak anak yatim ini.

" Mudah mudahan hari ini membawa berkah bagi kiota semua dan saya sangat senang bisa berbagi dengan adik adik sekalian," ucap Darius.

Selain Film Terbaik, Night Bus memenangkan kategori Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, dan Pemeran Utama Pria Terbaik.

fillm drama-thriller bertema konflik dan kemanusiaan yang memiliki visi dan target untuk masuk ke pasar film internasional ini dibintangi Tio Pakusadewo, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi dan Donny Alamsyah

Setelah menyelesaikan proses pengambilan gambar pada Oktober 2015 lalu. Night Bus dirilis pada April 2017.

Berikut Sinopsis film fiksi Night Bus, adalah sebuah perjalanan bus malam menuju kota Sampar yang hancur akibat konflik separatis selama bertahun-tahun,

Kisah perjalanan berawal di terminal keberangkatan kota Rampak, di mana penumpang sudah beberapa hari menunggu jalur dibuka setelah ditutup karena pecah konflik dan terjadi kontak senjata antara pasukan Samerka (Sampar Merdeka) dengan aparat pemerintah.

Para penumpang memiliki tujuan masing-masing untuk pulang dan bertemu dengan keluarga, atau berziarah ke makam anak yang baru meninggal, menyelesaikan urusan pribadi, serta mencari kehidupan yang lebih baik.

"Perjalanan biasa berubah menjadi penuh teror karena situasi masih panas dan bus dibajak oleh seorang pembawa pesan yang harus tiba ke Sampar untuk menyampaikan sebuah pesan rahasia kepada Panglima Perang Samerka," ungkap Darius.

Pembawa pesan menjadi orang yang paling dicari oleh semua pihak yang berkepentingan di konflik tersebut. Para penumpang harus menghadapi tekanan teror di pos pemeriksaan dan sepanjang sisa perjalanan, berusaha bertahan hidup di bawah desingan peluru.

Teror semakin mencekam situasi begitu menegangkan saat bus diberhentikan oleh kelompok bandit perang yang sadis dan bengis. Nyawa dipertaruhkan, tidak ada yang tau siapa akan bertahan hidup atau mati menjadi korban.

Ditambahkan Darius, semoga Night Bus hadir sebagai sebuah tontonan yang menghibur sekaligus memberi pesan pentingnya menjaga persatuan dan keutuhan berbangsa demi menghindarkan dari terjadinya konflik yang akan menimbulkan korban, kehancuran dan kerugian yang besar bagi bangsa kita tercinta Indonesia.(Lka)

Artikel Terkait