Profile

Miftah Sabri: Selasar.com, Kekuatan Berbagi Pengetahuan yang Kredibel

Oleh : very - Kamis, 18/01/2018 13:49 WIB

Miftah Sabri saat menjadi pembicara di Nampan Bistro, Pasar Minggu, Rabu (17/1/2018).

Jakarta, INDONEWS.ID - Filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) terkenal dengan ucapannya “Pengetahuan adalah Kekuatan (Knowledge is Power). Namun, pengetahuan yang dimaksudkan Bacon itu diperoleh melalui penemuan dan penciptaan ilmiah. Bacon menginginkan pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sains itu, juga bisa digunakan untuk kepentingan hidup manusia yang lebih baik.

Jadi, pengetahuan tidak bisa didapatkan dari memproduksi hoax, alias isu-isu omong kosong, yang belum dipastikan kebenarannya. Dengan kata lain, pengetahuan (yang benar) harus dicapai melalui sebuah proses verifikasi yang ketat sehingga benar-benar menghasilkan temuan yang kredibel.

(Ilmu) pengetahuan telah muncul sebagai sebuah kekuatan besar. Pengetahuan bukan saja mendatangkan kekuasaan, tetapi juga uang dan harta.

Namun di era digital seperti saat ini, ilmu pengetahuan mendapat tantangan besar. Semua orang sepertinya bisa memproduksi pengetahuan, walau di luar keahliannya. Mereka mengklaim menghasilkan ilmu pengetahuan. Ironisnya, karena terus dibombardir melalui sosial media, pengetahuan hoax itu akhirnya dipercayai sebagai sebuah kebenaran. Inilah yang disebut dengan era post truth. Seribu kebohongan yang disebarkan secara terus-menerus akan menjadi satu kebenaran. Hasilnya, kebenaran itu justru tidak memerdekakan, dan malah merusak kehidupan dan tatanan kebersamaan.

“Membagi pengetahuan yang kredibel sehingga hidup (manusia) menjadi lebih baik”. Itulah obsesi yang menggerakkan Miftah Sabri mendirikan sebuah platform digital untuk sharing ilmu pengetahuan yang diberi nama Selasar.com.

“Selasar adalah platform digital untuk para pengguna (users) berbagi pengetahuan, pengalaman, dan wawasan. Selasar memfasilitasi pengguna yang disebut sebagai Selasares untuk bertanya (Question), menjawab pertanyaan (Answer), atau menulis artikel (kini disebut Jurnal Selasar),” ujar Miftah di Nampan Distro, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (17/1/2018).

Selasar muncul dari pertanyaan sebagai cara untuk memudahkan Selasares membagikan pengetahuan, pengalaman dan wawasan mereka. Selasar memahami peradaban bertumbuh, penemuan-penemuan baru muncul, dan ilmu pengetahuan berkembang karena dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang seringkali sederhana. “Pertanyaan yang menjelaskan kejadian-kejadian dunia, pertanyaan yang memandu Anda membuat kebijakan, dan pertanyaan yang membuka wawasan,” kata Miftah.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang memandu Selasares memberikan jawaban baik berdasarkan pengetahuan, pengalaman, atau wawasan. Pertanyaan, kata Miftah, mempertemukan orang-orang dari berbagai perspektif dan pengalaman berbeda untuk menjawab atau berdialog secara konstruktif dan penuh rasa hormat (respek). Respek tersebut ditunjukkan dengan bahasa yang baik, ramah, dan tentunya anti hoax, sehingga setiap pengguna bisa saling memahami lebih baik satu sama lain.

“Ketika ini terjadi, Selasar bukan hanya berguna untuk para pengguna, tapi juga untuk masyarakat luas. Selasar membantu kita semua memahami dunia lebih baik, mengerti mengapa orang memiliki sebuah perspektif tertentu, dan pada akhirnya, membantu membuat Indonesia menjadi lebih baik,” katanya.

 

Dari FISIP ke Dunia E-Commerce

Setelah menamatkan pendidikan strata satu (S1) di FISIP Universitas Indonesia (UI), Miftah bergabung dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) di bahwa pimpinan Saiful Mujani. Di tempat inilah, alumnus FISIP UI angkatan 2002 ini intens mempraktikkan cara melakukan survei, dan polling.

Minat mantan peneliti Laboratorium Politik UI - sekarang Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL) – ke industri digital mulai tumbuh ketika bertemu Ahmad Zaky (kini CEO Bukalapak) yang saat itu masih menempuh kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Zaki yang membawa saya ke dunia digital ini,” ujar Miftah di hadapan para alumni FISIP UI.

Pertemuan dengan Ahmad Zaki berawal dari tantangan untuk membuat “quick count” hasil pemilu. Miftah dipertemukan oleh seorang teman dengan Ahmad Zaki untuk merancang sebuah program hitung cepat tersebut. Proyek dengan dana bantuan sebesar Rp30 juta itu pun sukses.

Pada tahun 2010, Ahmad Zaki mengajaknya untuk membuat e-commerce. Ide awal muncul melihat raksasa e-commerce Alibaba dan Amazone.

Nama Bukalapak dipilih karena domain itu masih kosong. “Kami beli dengan harga 150 ribu rupiah. Nanti orang bisa jualan di platform tersebut. Dan kami pun memulainya,” ujar Miftah.

(Miftah Sabri bersama senior ILUNI FISIP UI, Rio Sarwono (kiri), Asri Hadi (kedua dari kiri) dan Muhammad Priandhika (kanan).

Namun, mantan Ketua Senat UI (sekarang BEM) periode 2005 ini mengaku bisnis Bukalapak.com yang didirikannya bersama Ahmad Zaki tersebut nyaris tutup. “Hampir tutup, karena tiga tahun buka, uang habis,” ujarnya.

Namun, keuntungan dan kesuksesan selalu berpihak pada mereka yang tak penah menyerah. Datanglah investor untuk menanamkan modalnya di Bukalapak.

Miftah mengatakan, pertemanan dengan orang-orang yang mengerti teknologi digital inilah yang membuatnya menceburkan diri dalam dunia tersebut, tak peduli latarbelakang ilmu politik yang didapatnya saat kuliah.

“Pertemuan dengan seorang engineer membuat saya mengenal dunia digital,” ujarnya.

 

Kekuatan Mentoring

Kecintaan pada bisnis e-commerce sepertinya tak terbendung. Miftah pun mendirikan sebuah platform baru yang dikenal dengan Selasar.com. Platform ini sudah dibuka sejak 2013 lalu. Namun, Miftah mengaku baru serius menggarapnya pada Desember 2016.

Selasar diambil dari nama sebuah tempat nongkrong di depan Miriam Budiardjo Research Centre, FISIP UI. Hingga kini, kata Miftah, Selasar.com telah diakses 300 ribu pengguna (user) dengan 80 ribu topik tulisan. Setiap hari, ada 100-150 topik yang tayang.

Terjun ke dunia start-up, kata Miftah, tidak mesti berasal dari jurusan digital. Dia dan sejumlah tokoh lain telah membuktikannya. Jack Ma, pendiri sekaligus Chairman Eksekutif Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok misalnya, adalah seorang guru Bahasa Inggris. “Jadi tidak usa khawatir kita anak FISIP tapi bisa terjun di e-commerce,” ujarnya memotivasi.

Selain fokus menekuni bidangnya, terjun ke bisnis start-up juga membutuhkan semangat besar, pantang menyerah. Semua bisnis, seperti juga e-commerce memiliki tantangannya sendiri.

Tantangan Selasar.com, seperti juga start-up lain katanya, yaitu mendapatkan user sebanyak-banyaknya. Para pengguna tersebutlah yang bisa merekomendasikannya kepada pihak lain. “Kalau membuat sebuah produk, harus melewati tahap-tahap tersebut, direkomendasikan oleh orang lain. Jika sebuah platform diminati user, maka investor akan tertarik menanamkan modalnya di tempat tersebut,” ujarnya.

Yang juga penting dalam bisnis start-up, kata Miftah, yaitu kekuatan mentoring. Karena itu, para tokoh yang sudah sukses di bidangnya harus memiliki kesempatan dan semangat berbagi dengan memberi bimbingan kepada pebisnis pemula.

Miftah mengaku, saat ini dirinya menyiapkan 5 jam dalam seminggu untuk melakukan bimbingan kepada start-up.

Sebagai salah satu alumni FISIP UI, Miftah juga mengharapkan para seniornya untuk menyediakan waktu dan tenaga memberi bimbingan kepada pebisnis pemula. “Karena itu saya berharap pada ketua ILUNI FISIP UI terpilih agar membuat daftar orang-orang sukses di berbagai bidang agar membangun sistem mentoring. Tradisi mentoring ini sangat baik. Ini harus menjadi salah satu kekuatan kita,” ujarnya. (Very)

     

Artikel Terkait