Opini

Kalau Saja,Tetapi Sudah Terlambat

Oleh : luska - Rabu, 19/01/2022 08:09 WIB

Penulis : Noryamin Aini (Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

“Mentalitas kerja pragmatis cenderung berorientasi instan dan jangka pendek. Percayalah bahwa bos-majikan yang baik pasti juga menyiapkan banyak bonus yang terbaik untuk kita. Di sinilah ujian keyakinan bahwa setiap kebaikan pasti akan diganjar dengan kebaikan yang berlipat ganda dan berlebih”

Sahabat!
Ini hikayat ringanku tentang sosok kuli-tukang bangunan. Khasir (orang yang penuh sesal) sudah lama merantau; bekerja sebagai tukang yang hebat. Dia menjadi tukang bangunan di sebuah perusahaan pengembang yang bonafide dengan mega proyek. Hasil kerjanya super memuaskan. Dia juga tidak neko-neko. Orangnya jujur, dedikatif, tidak suka menjilat, dan profesional dalam bekerja. Karena itu, dia menjadi tukang andalan dan kesayangan bos yang berani mengupahnya dengan tarif sangat tinggi, di atas upah rata-rata. Wajar saja!

Sudah puluhan tahun Khasir bekerja di perusahaan pengembang ini. Hasil yang dia dapatkan dari kerja profesional ini juga tidak mengecewakan. Karena faktor usia, Khasir akhirnya meminta berhenti (pensiun). Sang bos tidak keberatan dengan usulan Khasir. Tetapi dia mengajukan satu permohonan memelas, agak terkesan memaksa. Syarat ini membuat Khasir penasaran, lalu dia bertanya “apa syarat tunggal tersebut”. Kata bos “Tolong bangunkan sebuah rumah yang super mewah sebagai kenangan untukku”.

Khasir, dengan rasa dan ritme kerja agak terpaksa, tetapi tetap profesional, memenuhi permintaan bosnya. Karena bangunan ini adalah proyek “paket kejar tayang”, Khasir kurang maksimal mengerjakannya, karena dia “kebelet” mau pulang kampung. Akhirnya, bangunan selesai dengan kualitas hasil kerja di bawah standar harapan; serba kurang sana-sini. 

Akhirnya, Khasir pamit kepada bosnya mau pulang kampung, tentu untuk selamanya. Tanpa diduga, sang bos memberikan kunci sebuah rumah. Pemberian kunci ini membuat Khasir terkejut. Kata bos “ini rumah yang tadi kamu bangun sebagai hadiah untukmu, bonusmu yang aku kumpulkan selama kamu kerja. Ini adalah ganjaran bagi orang yang baik”. 

Khasir tentu senang dan bahagia. Tetapi, dia tetap menyesali tindakannya. “Ya Allaaaah, “Kalau saja”, saya tahu rumah itu akan menjadi hadiah istimewa untukku, pasti saya akan membangunnya dengan serius; agar ia menjadi tempat peristirahatan ABADI-ku yang nyaman di ujung hidupku”. Ada rasa sesal yang luar biasa di benak dan qalbu Khasir. Tetapi, semuanya sudah terlambat, dan permainan sudah berakhir; tidak ada artinya penyesalan. Waktu dan kesempatan yang berlalu tidak akan dapat diputar balik. 

Sahabat! 
Ini kisahku. Eem, kita juga adalah “pekerja-kuli bangunan” di mata Allah. Banyak janji-janji Allah untuk imbalan kebaikan kita. Dengan ibadah dan seluruh perilaku keseharian, kita, sebetulnya, sedang membangun rumah masa depan di “Kampung Keabadian” dan “sangu” untuk kehidupan akhirat. Allah sungguh telah menjanjikan banyak imbalan yang super untuk kebaikan hamba-Nya. Untuk kita semua.

Rasa sesal mendera Khasir, dan membuatnya termangu lama. Khasir tidak menyadari rumah yang terakhir dikerjakannya akan menjadi miliknya. Pragmatisme, target hasil kerja yang instan dan jangka pendek, juga ketidak-mengertiannya menjadi akar penyesalan.

Seharusnya, Khasir dapat belajar banyak hal positif dari bos, tentu berdasarkan pengalaman kerjanya. Bos Khasir memang tidak memberitahu tentang bonus super yang akan diberikan padanya di ujung masa baktinya. Tetapi, hal yang berbeda justru dijelaskan oleh Allah dalam banyak narasi ayat al-Quran dan Hadits. Allah, umpama dengan jelas, sudah menjanjikan beragam hadiah; mulai dari bait (tempat yang super nyaman), istana, sampai ke taman indah untuk kita di surga nanti sebagai ganjaran kebaikan kita. 

Subhanallah! Imbalan 12 rakaat salat rawatib muakkadah, seperti dijanjikan, adalah bait di surga (hadits). Salat Dhuha 12 rakaat sehari dijanjikan istana di surga (hadits). Maksimalisasi ibadah dan istighfar di waktu sahur, di ujung malam, akan menjadi aset taman di surga (QS: Ali Imran : 17, dan al-Dzâriyât : 15,18). Bacaan al-Quran akan menjadi sahabat setia dan cahaya di kegelapan alam kubur (hadits). Taubat nasuha menjadi penghapus segala dosa kita. Mengasihi anak yatim menjadi karcis masuk ke taman indah di surga bersama Nabi Muhammad shalla Allah alaih wa sallam. Zikir tertentu menjadi perisai penjaga kita dari gangguan banyak keburukan. Ibadah-ibadah lain juga akan menjadi media aset akhirat kita.

Sahabat!
Akankah kita juga menyesal seperti penyesalan Khasir? Sesal yang tidak ada artinya. Tentu TIDAK, sungguh. Semoga! Mari kita kuatkan tekad, dan kencangkan spirit untuk serius mengerjakan ibadah dengan kualitas terbaik, karena ia akan menjadi simpanan untuk bonus akhirat kita. Waktu yang berlalu tidak dapat diputar balik; dan kesempatan berbuat baik sering tidak datang berulang. Kita harus merelakannya dengan sesal yang tidak berujung.

Camkanlah! Siapa tahu hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk melakukan kebaikan. Masa depan kita di Kampung Akhirat adalah buah dari pergumulan perjuangan kita di dunia ini. Hidup ini adalah petualangan dan persinggahan sementara untuk kita menyiapkan bekal di kehidupan abadi. Janganlah kita terjebak dalam perangkap mentalitas kerja pragmatis dan target hasil kerja yang instan, jangka pendek. Hidup di dunia adalah sementara; sementara kehidupan akhirat adalah abadi; masa depan kita.

Ingat! Masa lalu adalah kenangan. Biarkan semuanya berlalu. Biar kisah masa lalu menjadi renungan dan pelajaran. Besok adalah masa depan kita. Ayo move on, karena masa depan adalah harapan-impian yang harus kita perjuangkan. Jangan biarkan impian berujung dengan penyesalan. Allah tidak akan pernah mengingkari janji-janji-Nya.

#Kenapa-Tidak-Sekarang-dan-belum-terlambat-untuk-masa-depan.
Pamulang, 19 Januari 2022.

Loading...
TAGS : Noryamin Aini

Artikel Terkait