Opini

Menjangkau Kawasan Amerika Latin dan Karibia dalam Situasi Krisis: Anda Perlu Tahu (1)

Oleh : luska - Selasa, 06/09/2022 18:04 WIB

Penulis : Prayono Atiyanto
(Pengamat dan Praktisi Hubungan Internasional)

Saya sedang “ngemil” keripik paru Klaten yang dibawa oleh kolega saya dan menyeruput secangkir kopi hitam pahit arabica jawa sambil mencerna berbagai informasi soal dampak krisis dunia yang terasa semakin menggigit kehidupan rakyat banyak.

Memang demikianlah kenyataannya. Hantaman dampak negatif dari pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina belum selesai sudah berlanjut dengan krisis energi, krisis pangan dan krisis keuangan yang menerpa kencang berbagai belahan dunia tanpa ampun. Para pengamat dan ahli menyebutnya badai yang sempurna (perfect storm). 

Situasi krisis saat ini memang tidak main-main dan sangat berat. Kita semua tentu mengikuti hal-hal penting yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawatan Rakyat RI dan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat RI dan Dewan Perwakilan Daerah RI, tanggal 16 Agustus 2022 lalu. Krisis pangan, krisis energi dan krisis keuangan tidak terhindarkan lagi. Seratus tujuh negara terdampak krisis dan sebagian di antaranya diperkirakan jatuh bangkrut. Diperkirakan 553 juta jiwa terancam kemiskinan ekstrim dan 345 juta jiwa terancam kekurangan pangan dan kelaparan.

Pertanyaan pokok

Pertanyaan pokok saya adalah dalam situasi krisis seperti ini apa yang perlu dan bisa kita lakukan? Pertanyaan yang sama, saya yakini, juga muncul pada saat terjadi pandemi Covid-19 yang berdampak luas pada kehidupan ekonomi dan sosial orang banyak. 

Saat pandemi itu Indonesia bergerak cepat dalam proses koordinasi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Mesin diplomasi Indonesia juga bergerak sangat cepat dan sangat keras menjalankan diplomasi vaksin selain diplomasi kemanusiaan dan diplomasi perdamaian. 

Kita sudah mengetahui hasil kerja keras semua pemangku kepentingan yang terlibat membuat Indonesia bisa bertahan dari terpaan badai krisis. Indonesia berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 dan termasuk lima besar negara dengan vaksinasi terbanyak di dunia. Inflasi juga berhasil dikendalikan (kisaran 4,9%). Ekonomi tumbuh positif 5,44% pada kuartal II tahun 2022. Neraca perdagangan juga surplus.

Oleh karena itu, menurut pemahaman saya, kali ini juga kita tidak boleh tinggal diam dan berhenti berikhtiar. Istilahnya jangan kasih kendor. 

Ikhtiar itu penting karena krisis belum selesai! Roda perekonomian nasional dan perekonomian rakyat harus tetap bisa bergulir dan menghasilkan.

Skenario krisis dan upaya menjangkau kawasan Amerika Latin dan Karibia

Skenario krisis apa yang bisa kita pikirkan?

Sebenarnya ada dua hal yang layak untuk dipertimbangkan, yaitu:

Memaksimalkan semua peluang yang ada. Sekecil apapun peluang tersebut.
Menciptakan peluang baru. Yang sebelumnya tidak ada menjadi ada.

Kedua-duanya perlu kita terapkan dalam menggarap pasar Amerika Latin dan Karibia. Pendekatan yang cenderung agresif perlu didukung dengan strategi pemasaran yang pas dan terukur. Strategi pemasaran semacam ini tentu perlu berbasis pada informasi dan data hasil market intelligence yang akurat dan mutakhir. Perwakilan RI di kawasan Amerika Latin dan Karibia bisa membantu untuk penyediaan market intelligence tersebut.

Tahukah anda?

Kawasan Amerika Latin (Amerika Tengah dan Amerika Selatan) dan Karibia adalah sebuah pasar potensial bagi Indonesia. Kawasan ini terdiri dari 33 negara dengan luas area mencapai 20.111.457 km per segi. Jumlah penduduk kawasan Amerika Latin dan Karibia diproyeksikan mencapai 657 juta orang pada tahun 2021 dan memiliki 273 juta orang (41,76%) penduduk usia produktif (25-54 tahun).

Akan tetapi kita juga perlu tahu bahwa kawasan Amerika Latin dan Karibia tidak kebal terhadap krisis global saat ini. Ekonomi di kawasan Amerika Latin dan Karibia diperkirakan tumbuh sekitar 2,1% pada tahun 2022 atau turun dibanding pertumbuhan 6,7% pada tahun 2021. Pertumbuhan ekonomi kawasan Amerika Latin dan Karibia juga masih akan melambat pada tahun 2023. (sumber: World Bank Global Economic Prospects, Juni 2022 dan Direktorat Amerika II Kementerian Luar Negeri) 

Mitra dagang utama Indonesia di kawasan Amerika Latin adalah Argentina, Brasil dan Meksiko. Untuk tahun 2022 (Januari-Juni) total ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Latin tercatat sebesar USD 2,254,05 juta. Sedangkan total impor Indonesia dari kawasan Amerika Latin tercatat sebesar USD 3,531,99 juta. 

Artinya, Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD 1,277,94 juta terutama dengan Argentina, dan Brasil. Sedangkan dengan negara Amerika Latin dan Karibia lainnya Indonesia berhasil mencatat surplus perdagangan yaitu dengan Meksiko, Chile, Venezuela, Panama, Kuba, Kolombia, Suriname, Peru. (sumber: Kementerian Perdagangan RI dan Direktorat Amerika II Kementerian Luar Negeri) 

Produk ekspor Indonesia yang mempunyai peluang masuk ke pasar Amerika Latin dan Karibia antara lain makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, karet dan turunannya, kelapa sawit dan turunannya, elektronik dan produk industri strategis. (sumber: Direktorat Amerika II Kementerian Luar Negeri)

Share total nilai ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Latin dan Karibia relatif masih sangat kecil. Ada beberapa tantangan dalam menggarap hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia. Beberapa tantangan yang pokok, yaitu antara lain bahasa, logistik, pengenaan tarif yang tinggi. 

Negara-negara Amerika Latin dan Karibia yaitu Brasil, Argentina, Kolombia, Chile, Panama, Meksiko juga diketahui telah melakukan investasi di Indonesia selama periode Januari-April 2022. Ada 50 proyek dengan nilai investasi USD 7,35 juta.

Bagaimana cara menjangkau kawasan Amerika Latin dan Karibia? 

Saya sepakat bahwa penyelenggaraan forum bisnis tetap menjadi pilihan penting. Saya juga sepakat bahwa Indonesia-Latin America and the Caribbean (Ina-LAC) Business Forum menjadi jembatan bisnis yang terbukti bermanfaat untuk mempertemukan pelaku bisnis, pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dari Indonesia dengan mitranya di 33 negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Situasi pandemi Covid 19 tidak bisa menghentikan kegiatan bisnis antara Indonesia dan kawasan Amerika Latin dan Karibia. Penyelenggaraan Ina-LAC Business Forum pada masa pandemi dilakukan secara hybrid tetapi utamanya daring (online) karena memang tidak memungkinkan untuk menghadirkan para pengusaha Indonesia dan Amerika Latin dan Karibia secara fisik. 

Yang juga saya ketahui adalah kinerja Ina-LAC Business Forum memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2019 Ina-LAC Business Forum menghasilkan kesepakatan bisnis sebesar USD 33,12 juta. Selain itu, juga ada komitmen investasi sebesar kurang lebih USD 5 milyar. Pada tahun 2020, terjadi kesepakatan bisnis sebesar USD 71,02 juta dan potensi bisnis sebesar USD 14,36 juta. Pada tahun 2021, terjadi kesepakatan bisnis sebesar USD 19,08 juta dan potensi transaksi bisnis sebesar USD 68,82 juta. 

Direktur Amerika II Kementerian Luar Negeri, Darianto Harsono, optimis bahwa Ina-LAC Business Forum akan terus menjadi kegiatan unggulan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia. Ina-LAC Business Forum 2022 juga diharapkan bisa sukses seperti tahun-tahun sebelumnya. Intinya penyelenggaraan Ina-LAC Business Forum justru sangat relevan dalam situasi krisis yang belum berakhir saat
ini.

Untuk tahun 2022 forum bisnis Ina-LAC, yang menurut rencana akan diadakan pada tanggal 17-18 Oktober 2022, diupayakan bisa kembali menghadirkan pengusaha dari Amerika Latin dan Karibia secara fisik tetapi dalam jumlah yang terbatas terutama pengusaha yang dinilai sebagai potential buyer.

Keberhasilan penyelenggaraan Ina-LAC Business Forum sejauh ini menurut saya karena juga didukung hal-hal pokok berikut ini:

Platform Digital Ina-Access (INA-ACCESS.COM)

Platform digital Ina-Access saat ini dikelola oleh Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri sebagai upaya untuk mendigitalisasi promosi dan interaksi di sektor perdagangan, pariwisata dan investasi. Komponen pokok Ina-Access terdiri dari database terpadu produk-produk ekspor unggulan Indonesia, database terpadu mengenai proyek-proyek investasi di Indonesia, database terpadu mengenai pariwisata Indonesia, jadwal untuk membuat perjanjian dan business matching, formulir inquiry. Ina-Access diluncurkan secara resmi oleh Menteri Luar Negeri RI pada tanggal 14 Oktober 2021.

Ina-Access adalah jawaban terhadap kesulitan melakukan interaksi bisnis secara langsung (offline) pada masa pandemi. Ina-Access juga dimaksudkan untuk menjembatani tantangan jarak yang jauh dan perbedaan waktu antara Indonesia dan kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Para pengusaha yang ingin memanfaatkan platform digital Ina-Access tidak dipungut biaya alias gratis. Yang diperlukan hanya mendaftar dan memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku antara lain kepemilikian ijin usaha, ijin ekspor. 

Sejauh ini ada 825 exhibitor (60 persen di antaranya adalah UMKM Indonesia) yang telah memanfaatkan Ina-Access. Ada sebanyak 4490 produk yang dipamerkan di Ina-Access. Selain itu, Ina-Access sudah diakses oleh 17.710 pengunjung dari 157 negara (tidak hanya dari kawasan Amerika dan Eropa).

Menurut saya Ina-Access merupakan platform digital yang solid karena proses pembentukannya juga dibicarakan dan dikoordinasikan dengan pemangku kepentingan terkait di Indonesia yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Investasi/BKPM, Bank Indonesia, Kadin Indonesia.

Kolaborasi Lintas Pemangku Kepentingan

Forum Bisnis Ina-LAC didukung oleh kolaborasi yang kuat antara Kementerian Luar Negeri (Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa) dengan Kementerian terkait serta Perwakilan RI di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Dalam hal ini ada pemahaman yang baik bahwa penyelenggaraan Ina-LAC Business Forum saling melengkapi dan memperkuat kegiatan bisnis forum lainnya yang diadakan di Indonesia termasuk Trade Expo Indonesia. 

Capaian Forum Bisnis Ina-LAC merujuk pada kerja keras berbagai pihak termasuk Perwakilan RI di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Kerja keras semua pemangku kepentingan juga sangat dibutuhkan untuk suksesnya Ina-LAC Business Forum tahun 2022. Terlebih lagi waktu penyelenggaraannya sudah semakin mendekat. Kerja yang butuh komitmen kuat.

Langkah terobosan?

Beberapa hari lalu saya sempat melakukan komunikasi singkat dengan Duta Besar LBBP (Luar Biasa dan Berkuasa Penuh) Republik Indonesia untuk Republik Argentina, Duta Besar Niniek Kun Naryatie. Intinya justru situasi krisis ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk lebih merangkul negara-negara lain sehingga bisa bangkit bersama dari situasi krisis. (Ini juga menjadi slogan utama Presidensi Indonesia di G20 “Recover Together, Recover Stronger”). Artinya kita perlu bisa menerjemahkan kedekatan politik yang sudah kita jalin selama ini dengan berbagai negara termasuk negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia menjadi kedekatan di bidang ekonomi dan sosial budaya.

Untuk itu, Ina-LAC Business Forum harus juga bisa memotivasi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk “berani” berinvestasi (melakukan outbound investment) ke kawasan Amerika Latin dan Karibia. Bisa dalam bentuk perusahaan patungan atau menerapkan skema imbal beli. 

Sebagai ilustrasi, kita tahu bahwa Indonesia mengimpor kapas dari Argentina. Mungkin bisa dijajaki mengenai peluang perusahaan Indonesia untuk melakukan investasi dan ikut berperan dalam rantai produksi benang dan kain katun di Argentina. Untuk imbal beli mungkin bisa dilakukan pengaturan antara kebutuhan kedelai Indonesia dengan partisipasi BUMN Indonesia dalam pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan Argentina.

Jadi sekali lagi sudah waktunya Indonesia menggarap peluang pasar di Amerika Latin dan Karibia secara lebih agresif atau sangat agresif. Negara-negara lain termasuk anggota ASEAN sudah lumayan lama melakukannya antara lain di bidang pertambangan di Argentina.

Saya senang mengetahui bahwa PT Phapros dan Perum Peruri juga sudah merambah pasar Amerika Latin dan Karibia khususnya di Peru. Sesuai informasi, kedua perusahaan ini juga akan terus menggarap pasar Amerika Latin dan Karibia. PT Phapros bahkan  sudah mengemas produknya dengan menggunakan bahasa Spanyol. Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri tentunya diharapkan untuk siap mendukung.

Dukungan lain dari Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri yang sedang digarap adalah pembuatan perjanjian kerja sama perdagangan (PTA/LTD) dengan organisasi regional CARICOM (Caribbean Community). Proses pembahasan dan koordinasi lintas kementerian dan berbagai pemangku kepentingan masih terus dilakukan Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri saat ini.

Saat ini juga masih terus digarap upaya pembuatan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) Indonesia-MERCOSUR. Artinya kita mengupayakan kemudahan dan mengurangi hambatan akses ke pasar Amerika Selatan melalui organisasi MERCOSUR. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat upaya menggarap pasar Brasil, Argentina, Uruguay dan Paraguay yang selama ini dilakukan melalui jalur hubungan bilateral.

                    ---------------

*Opini ini adalah pendapat pribadi. Penulis pernah bertugas sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Republik Azerbaijan (2012-2016) dan saat ini masih aktif sebagai Diplomat Ahli Utama pada Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Kementerian Luar Negeri. Sebelumnya pernah menjadi Direktur Amerika Selatan dan Karibia Kementerian Luar Negeri (2007- awal 2012) dan bertugas di KBRI London (1988-1992) dan Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York (1995-1999, 2003-2007). Beberapa tahun terakhir menjadi Duta Besar Pembina/Mentor pada Diklat Sekolah Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri. Selain itu, juga masih aktif sebagai Asesor Kompetensi Teknis Kementerian Luar Negeri.

Artikel Terkait