Partai Demokrat Bisa Dorong Gatot Nurmantyo Sebagai Calon Ketum

Oleh : very - Jum'at, 21/02/2020 12:30 WIB

Girindra Sandino, Direktur Eksekutif Indonesian Democratic Center for Strategic Studies (IndecenterS). (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akhir-akhir ini rajin melakukan safari politik berkunjung ke pengurus partai di berbagai daerah. Nama putra sulung Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu memang disebut-sebut sebagai calon kuat ketua umum partai. Agus, disebut sebagai kandidat pengganti SBY di Demokrat.

Girindra Sandino, Direktur Eksekutif Indonesian Democratic Center for Strategic Studies (IndecenterS) mengatakan, AHY memang dipersiapkan SBY untuk menggantikan perannya di Partai Demokrat. Langkah AHY maju dalam pemilihan Gubernur Jakarta, adalah bagian dari skenario SBY melanggengkan dominasi klan Cikeas di Demokrat. Pun, upaya SBY mendorong AHY sebagai calon wakil presiden pada pemilihan presiden yang lalu, juga bagian dari skenario itu.

"Makanya tidak heran jika kemudian sekarang AHY jadi calon ketua umum. Lihat saja, dengan cepat AHY diberi posisi strategis di Demokrat, mulai jadi Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma), sekarang wakil ketua umum," kata Girindra melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (21/2).

Padahal, kata Girindra, Kogasma adalah lembaga baru yang terkesan dibentuk mendadak, semata untuk mengakomodir AHY yang gagal jadi Gubernur Jakarta dan cawapres. Jadi, sangat kentara sekali skenario SBY menyiapkan AHY sebagai calon pemimpin Demokrat di masa datang.

Terkait seberapa kuat kans AHY jadi nakhoda Demokrat, Girindra menjawab, peluangnya sangat besar. Sebab SBY masih jadi penentu di Demokrat. Pengaruh SBY masih kuat di Demokrat.

"SBY masih menentukan di Demokrat. Karena itu ya kans AHY jadi Ketum Demokrat sangat besar sekali," ujarnya.

Namun jika kemudian ini dikaitkan dengan konstelasi Pilpres 2024, Demokrat harusnya mulai mempertimbangkan untuk mengelus sosok lain. Partai Demokrat diminta agar tidak terus tergantung pada klan Cikeas.

Walau Pilpres 2024 masih jauh, tapi jika melacak kontestasi politik yang pernah diikuti AHY, kata Girindra, nilai jual putra sulung SBY ini tidak terlalu mengkilap. Masih kalah oleh sosok lain seperti Anies Baswedan, atau Ridwan Kamil yang disebut banyak pihak, merupakan calon kuat Capres 2024.

"Nilai jual AHY sendiri memang sampai saat ini masih kalah oleh Anies atau Ridwan Kamil. Digadangnya AHY sebagai Ketum Demokrat adalah cara untuk mengkatrol nilai jual AHY," ujarnya.

Girindra berpendapat, Demokrat mulai dari sekarang sudah memikirkan calon alternatif lain yang lebih punya magnet politik. Ia menyebut nama Gatot Nurmantyo, eks Panglima TNI yang bisa dipertimbangkan untuk digaet Demokrat.

Jenderal Gatot walau namanya sekarang seakan tenggelam, tapi punya magnet politik yang lebih mungkin dikapitalisasi. Status Gatot sebagai mantan Panglima TNI, jadi nilai jual tersendiri. Pun, statusnya sebagai pensiunan jenderal bintang empat. Sepak terjang Gatot juga dulu sempat memikat publik. "Saya pikir, Gatot bisa dipertimbangkan untuk digaet Demokrat," ujarnya.

Gatot, setidaknya jika dibandingkan dengan sosok berlatar militer lainnya seperti Prabowo Subianto, kata Girindra, kelasnya setara. Berbeda jika kemudian jika AHY berhadapan dengan Prabowo. Ada hambatan psikologis politik mengingat AHY bukanlah jenderal. Meski sama-sama mantan tentara.

"Saya pikir suasana psikologis ini akan terasa di tengah publik, andai nanti misalnya, andai nih, AHY bisa maju ke Pilpres dan lawannya itu adalah Prabowo. Berbeda kalau itu lawannya adalah Gatot," ujarnya.

Namun memang dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. AHY bisa saja jadi kuda hitam, jika dipoles dengan cerdas oleh pendukungnya. Dan, Pilpres masih jauh. Menempatkan AHY di pucuk pimpinan Demokrat, adalah satu-satunya cara untuk menaikan nilai jualnya. "Hanya cara itu. Tak ada strategi lain," pungkasnya. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait