Gaya Hidup

"Mencari Wajah Cinta ala Dian dan Kheru," oleh Gerard N Bibang

Oleh : Rikardo - Rabu, 03/06/2020 18:30 WIB

Ilustrasi cinta oleh Beijibike

Oleh: Gerard N Bibang 

Loe cari apa, Dian? Kayak orang bingung; what can I help you 

Alaaaa, gak usah sok-sokan english 

Lho, kamu ini gimana sih; kamu ingat gak lelaki tua, yang kita sebut komeser itu 

Iyah, tahu, kenapa dia

Itu lho, di kelas pernah bilang: tahu english sekarang ini bukan luxus, bukan kemewahan, bukan privilege orang terpelajar

Terus, terussss?

Iyah, suatu keharusan-lah di era digital ini; di zaman yang kian global di mana dunia ini sebentar lagi akan jadi satu kampung besar, yah, bahasa inggris mau gak mau harus dipake; jadi, tahu english bukan soal u like or dislike, mau atau tak mau; tapi harusssss!

Right, right, Kheru

Lha, itu barusan kamu omong apa; english kan?

Hahahahahaaa, loe ah; by the way, lelaki tua komeser itu masih hidup gak ya

Hussssstt, jangan begitu, Dian; kamu mau dia cepat mati

Iya engga-lah; Cuma gaya bahasaku aja; kangen dia sih

Hahahahaahahahaha, loe jujur sekarang; aku juga sih kangen beliau; masih sehat dia, sering aku lihat dia berkeliaran di dunia maya, di medsos

Oh gitu ya, berarti dia masih sehat-sehat, gratias Deo, rindu ketemu dia semeseter depan

Apa tadi kamu bilang: gratiasss? itu bukan bahasa inggris kan 

Bukan, bukan, itu ungkapan bahasa Latin; gratias Deo, artinya: syukur kepada Allah 

Ohhhh, loe emang hebat Dian; aku kira kamu lancar english doang, eh tahu-tahunya bahasa Latin juga

Eh, jangan keliru; itu bukan bahasa Latin tapi ungkapan Latin 

Lho, apa bedanya

Jelas dong beda-nya; bahasa Latin ya kayak kita omong sekarang ini; kalau bahasa dalam pengertian itu, aku bego bahasa Latin; tapi kalau ungkapan Latin, ya beda; sebuah ungkapan adalah pemadatan makna dalam satu frase dengan arti yang tetap; nah, kalau ungkapan Latin, kan, loe bisa hafal; sama-lah ketika komeser lelaki tua itu di kelas sering berikan beberapa ungkapan bahasa Jerman, misalnya Drei Tore des Kommunikations, yang artinya Tiga Gerbang Komunikasi; emang loe tahu bahasa Jerman? sprichst du Deutsch? 

Gak, gak, Dian, buta aku; iyah sihhh, aku gak tahu bahasa Jerman tapi ungkapan Jerman itu, aku ingat dan ngerti maksudnya; drei Tore, tiga gerbang

nah, lihat kan sekarang, beda-nya antara bahasa dan ungkapan

Yupppp, thanks soo much ya Dian untuk pencerahan ini

Alaaaaaa, segitu aja dibilang pencerahan; my pleasure, Kheru

Tapi Dian, tadi aku lihat kamu agak bingung, kenapa

Aku tu cari buku yang pernah aku baca, raknya aku tahu, bukunya sudah dapat, hanya gak ingat di halaman berapa

Hahahahaha, persis waktu aku pada lebaran tahun-tahun kemarin; gak bisa pulang kampung halaman

Semua gak boleh pulkam kan; instruksi pemerintah karena virus corona

Engga Dian, ada gak ada corona, tetap aja aku gak pulang kampung halaman; sudah beberapa tahun lewat, ya begitu terus

Kenapa

Sama kayak kamu tadi; kampungnya aku tahu hanya gak tahu halamannya berapa, hahahahaha

Hahahahaahaha, lucu, lucu; terimakasih sudah membuat aku ngakak siang ini, buat umur panjang, kata orang

Tapi Dian

Kenapa Kheru

Aku tu manggil kamu, basa basi doang

Iya aku tahu

Sebetulnya aku tu mau sampaikan sesuatu yangggg....aduh malu

Bilang aja, kenapa, udah besar dan masih siang begiini, pake malu segala; waras loe

Okey, gini, aku tu mau bilang: I luv u

Alaaaaaaaa, aduhhhhhhh

Sebentar-sebentar, aku belum selesai; ini bukan soal rasa tapi prinsip kemanusiaan

Kamu tu ya, ngomong luv u pake prinsip kemanusiaan; bilang aja loe suka, habis perkara, tinggal aku-nya respons balik atau gak

Bukan, bukan, kamu tu jangan anggap aku sebegitu rendahnya

Maaf, maaf, go ahead, Kheru

Kalau soal rasa, saya yakin pasti banyak lelaki luar sana yang akan bilang luv u sama kamu; dan aku tahu pasti kamu bosan dan anggap angin lalu; aku yakin karena kamu smart dan cantik, komplit-lah untuk seorang gadis

Distingsi antara rasa dan prinsip kemanusiaanmu itu lho yang aku gak ngerti; cinta ini kan soal rasa ya, soal suka, soal ketertarikan; lalu kamu omong prinsip kemanusiaan, itu yang bikin bingung

Gak salah semua itu, Dian; tapi jangan lupa, cinta jauh lebih dalam dari itu; maka-nya tadi aku sebut prinsip kemanusiaan; intinya begini: aku katakan cinta kepada kamu supaya kamu juga mencintai aku; istilah kerennya begini: si vis amari, ama!

Wuihhhh, bahasa Latin ya

Bukan, ungkapan Latin

Oke, oke; artinya?

Jikalau engkau ingin dicintai, maka cintailah; menurutku, ini adalah prinsip kemanusiaan; artinya, dalam mencintai perlu sikap proaktif; jangan menunggu dicintai, tapi mencintai-lah terlebih dahulu; atau bisa diparafrasekan begini: jika ingin diberikan sesuatu, ya, memberilah terlebih dahulu; jika ingin dikasihi, maka kasihilah; jika ingin dimaafkan, maka maafkanlah terlebih dahulu

Benar-benar sangat injili; di injil apa dan ayat berapa?

Hahahahah, aku lupa injilnya, ayatnya dan halamannya

Hahahahaha, ayo-ayo waeeee kamu, Kheru; okey, setuju dengan prinsipmu tadi; lalu kamu katakan luv u ke aku supaya aku luv u juga ke kamu, begitu?

Iyahhh, gapapa kan

Gapapa sih, cinta dalam artian luas, saling menerima, mengasihi, meneguhkan

Nah, cinta seperti itu yang aku maksudkan; bravo kamu, Dian; sini keningmu, aku mau kecup

Eitttsssss, social distancing

Oh iyah ya; terus kamu gimana, kamu mencintaiku juga kan?

Aduh, kamu koq maksa begitu ya; ngeressss banget; cinta dalam arti luas itu gak harus diroyalkan melalui kata-kata; itu bodoh namanya, hanya mempersempit keluhuran cinta

Kamu gak nyinyir aku kan, Dian

Engga, maksudku cinta gak semata-mata ekspresi kata; jauh lebih dalam dan luas dari itu

Hah, apa itu cinta kalau begitu

Cinta’ dan ‘Mencintai’

Cinta itu suatu keadaan di dalam jiwamu; suatu situasi yang bergulung-gulung di batas kedalaman jiwamu; sedangkan mencintai adalah keputusan sosial; mencintai adalah perilaku, langkah perbuatan kepada yang bukan dirimu; bentuknya tidak lagi seperti yang ada di dalam dirimu; ia sebuah dinamika aplikasi keluar diri, bisa berupa benda, barang, jasa, pertolongan, kemurahan, dan apapun sebagaimana peristiwa sosial di antara sesama manusia

Wuihhhh, dalam banget; filosofis; yang aku tangkap, kamu membedakan antara cinta dan mencintai; koq bisa

Iyah bisa saja, Kheru; engkau bisa mencintai meskipun tanpa cinta

Dian, Dian, di situ waras? ini koq aneh-aneh pernyataanmu

Hahahaaha, karena aku waras sehingga aku membedakan keduanya; ini aku jelasin mengapa engkau bisa mencintai tanpa cinta; karena perbuatan mencintai bisa engkau ambil energinya dari nilai-nilai sosialitas yang bermacam-macam; bisa kasih sayang kemanusiaan, bisa kenikmatan berbayar, bisa toleransi, empati, simpati, partisipasi dan apapun; atau engkau ambil landasan dari Tuhan: engkau tetap mencintainya, menjalankan kebaikan kepadanya, meskipun di dalam dirimu sudah tak tersisa rasa cinta yang eksklusif kepadanya

Wuihhh, makin abstrak; tolong dijelasin lagi, Dian

Gini lho: engkau bisa memasuki kedalaman makna cinta dan mencintai dengan berpindah-pindah pintu untuk memasukinya; engkau bisa menyelami lubuk-lucuk cinta dan mencintai dengan merangsang terbukanya berbagai pori-pori nilai untuk engkau buka dan masuki

Paham, paham; berarti memang cinta itu sebenarnya suatu preposisi bathin, sikap bathin, begitu?

Persis! tapi bagiku istilahmu itu terlalu tinggi; benar sih, gak salah; aku selalu katakan bahwa cinta itu suatu potensi, suatu keadaan, sebuah situasi batin, mungkin berujud ruang yang membutuhkan waktu, atau bisa jadi ia terasa sebagai energi atau teralami sebagai semacam frekwensi; seluruh kemungkinan itu terletak di dalam diri manusia, ia ada dalam kesunyian dirinya, ia belum fakta bagi selain dirinya

Ohhhhhh, sekarang aku paham mengapa tadi kamu bedakan banget antara cinta dan mencintai

You get my point, my friend; aku ulangi: cinta adalah situasi bathin; adapun ‘mencintai’ adalah sikap sosial; ialah keputusan dari dalam diri ke luar diri dan untuk yang bukan dirinya sendiri; katakanlah suatu tindakan ‘exit’ ke yang bukan diri sendiri; apabila ‘cinta’ diaplikasi menjadi tindakan ‘mencintai’, maka begitu ia mensosial: wujudnya, bentuknya, formulanya, prosedurnya, nada dan iramanya, sudah ‘bukan’ cinta itu sendiri; Sang Cinta cinta ada di balik itu semua

Hebat ya cinta kita begitu Ilahi, karena di balik semua tindakan ‘mencintai’ itu ada Sang Cinta sendiri

Yes, you are right

Tapi Dian, jika begitu logikanya, maka tindakan mencintai itu tidak harus berhubungan dengan cinta, bukan begitu?

Wajah Cinta

Ah, gak tegas seperti itu juga; yang benar ialah mencintai itu wajahnya seakan tak ada hubungannya dengan cinta, karena ia bisa berupa kerja keras membanting tulang di pasar dan jalanan untuk keluarga; ia bisa berujud kepengasuhan dalam keluarga, kepemimpinan dalam bermasyarakat, kearifan mengurusi kesejahteraan rakyat; kesungguhan hidup sesuai nama; kita mahasiswa ilmu komunikasi, itu nama kita kan; maka bersungguh-sungguhlah menjadi mahasiswa, tindakan itu adalah satu bentuk mencintai; sebaliknya berleha-leha malas, nyontek sana sini demi mendapat nilai A, yah, jelas bukan tindakan mencintai, meski gak ada sanksinya; tapi sadarlah, engkau benar-benar tidak sedang mencintai

Luas banget yah bentuk-bentu mencintai itu; ada lagi?

Ada, bahkan bisa berwujud undang-undang, kreativitas teknologi, serta apapun saja yang dikenal oleh manusia sehari-hari tanpa mereka pernah menyadari bahwa itu semua bersumber dari keputusan dan tindakan mencintai

Dian, kamu benar-benar telah mencerahkan aku

iyah, sama-sama Kheru; aku juga tercerahkan gara-gara kamu tadi nanya yang aneh-aneh dan mengagetkan

Hahahahaha, sekarang baru aku ngerti mengapa cinta itu luhur dan mulia

Betul, betul

Padahal kamu tahu gak Dian, tadi tu sebenarnya waktu aku bilang I luv u, bulu kudukku bergetar lho, kamu gak lihat aja; merinding dikit tapi lebih banyak nafsu

Hahahahhaa, wajar lah Kheru

Tapi lama-lama waktu kamu menjelaskan cinta dan mencintai, jujur, aku benar-benar gak jadi ngaceng; lebih banyak kagum dan merasa wah

Yeeeeee, kembali ke ngaceng lagi; aku tahu kenapa kamu gak nafsu sama aku

Kenapa

Karena tanpa disadari, kita sedang mengalami cinta yang murni, yaitu saling mencerahkan, meneguhkan dan menerima; jadi gak sebatas pada seks aja meskipun umumnya manusia selalu menggiring cinta ke seks dan persetubuhan

Iyah, betul; artinya semuanya pada porsinya masing-masing; anyway, thanks sekali lagi, Dian; all the best, may God bless u

U too, Kheru; jangan ngeres lagi ya otaknya

Hahahahahaha namanya otak cowokkk hahahahaa...see u my Dian

Bye-bye Kheru

***

Catatan: Dian (=Diandra) dan Kheru (= Kherubim) adalah penggulat ilmu komunikasi pada Unika Atmajaya Jakarta, Kampus Semanggi

****(gnb:tmn aries:jkt:awal juni, pekan kelima psbb jkt)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Loading...

Artikel Terkait