Nasional

Dokter Kusman Suriakusumah Ungkap Penyebab Kuliah Bisa Gagal Karena Narkoba

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 04/05/2021 17:45 WIB

Kepala Deputi Rehabilitasi BNN, dr. Kusman Suriakusumah SpKJ MPH

Jakarta, INDONEWS.ID - Mantan Kepala Deputi Rehabilitasi BNN, dr. Kusman Suriakusumah SpKJ MPH mengatakan bahwa ada tiga musuh utama negara yakni teroris, korupsi dan narkoba.

"Jadi musuh negara itu cuman ada tiga (3) bukan empat (4). Satu yang namanya teroris, kedua korupsi dan ketiga adalah narkoba," kata dokter Kusman dalam seminar virtual bertajuk "Asyiknya Hidup Tanpa Narkoba" pada Selasa (4/5/21).

Mantan Analisis Monitoring Deputi Rehabilitasi BNN ini menjelaskan bahwa narkoba dimasukan sejajar dengan teroris dan korupsi karena ketergantungan narkoba memiliki tingkat kerusakan yang parah yakni menyasar otak pecandunya.

"Dan saya rasa kenapa berbahaya seperti yang dua yakni teroris dan korupsi karena kalau sudah ketergantungan narkoba, yang kena adalah pasti otaknya. Jadi bukan jantung, paru-paru tapi otaknya," terangnya.

Dosen Kajian Pencegahan, Penanggulangan dan Pemberantasan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Pascasarjana UI ini menjelaskan bahwa ketergantungan NARKOBA menyebabkan gangguan pada otak yang menimbulkan perubahan perilaku, pikiran dan perasaan.

Terjadinya perubahan pada perilaku, pikiran dan perasaan, maka secara otomatis akan terjadinya perubahan kepribadian. Sebab perilaku, pikiran dan perasaan adalah komponen dasar dari kepribadian.

Kerusakan jangka panjangnya, lanjut Mantan Kepala Bidang Medis Terapi dan Rehabilitasi BNN ini yakni mengarah pada gangguan kejiwaan.

"Karena kerjanya di otak, maka narkoba ini mengganggu perilaku, pikiran dan perasaan. Ini adalah komponen dari kepribadian. Jadi jika ada perubahan kepribadian, maka akan mengarah pada gangguan jiwa," ungkap dokter Kusman.

Dokter kelahiran Jakarta 2 Maret 1957 ini mememberkan terkait terapi untuk menyembuhkan pecandu bahwa akan memakan waktu yang cukup lama karena merupakan kombinasi antara farmakoterapi dan terapi-terapi lainnya yang disebut terapi perilaku.

"Jadi kalau pakai narkoba yang pasti kuliahnya terganggulah. Karena kuliah yang kita harapkan selesai tepat waktu, kalau pake narkoba biasanya mundur-mundur dan bahkan gagal," pungkas dokter yang aktif berpraktik di RS Mayapada Hospital ini.

Untuk itu, Eks Kepala Seksi Narkotika, Alkohol dan Permasalahan Gangguan Adiktif DITKESWA Ditjen YAN Medik Depkes RI ini menyarankan bagi yang pernah menggunakan narkoba agar segera menemui pembimbingnya atau fasilitas kesehatan terdekat.

"Kenapa kuliah bisa gagal karena narkoba. Jadi salah satu upaya deteksi dini adalah kalau misalnya ada yang merasa yang mempunyai gelaja seperti itu, segera menemui pembimbingnya atau fasilitas kesehatan terdekat," tukas aktivist Narkoba di Organisasi BERSAMA ini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa narkoba memiliki banyak jenis seperti marijuana, ganja. Ada juga heroin dengan nama jalannannya disebut putaw, dan metamphetamin atau nama jalannya shabu.

Pecandu adalah orang yang kecanduan. Ciri-cirinya, ia menyebutkan, adalah penggunaan dosis yang terus meningkat tiap hari. "Kalau dia kecanduan, setiap hari dosisnya makin meningkat sampai overdosis sehingga intoksikasi," bebernya.

Orang kecanduan biasanya akan memiliki sugesti, yakni sebuah rasa rindu seumur hidup atau istilah inggrisnya craving. "Jadi narkoba itu punya gelaja sisa yang namanya sugesti, ga bisa hilang. Rasa rindu ingin pakai lagi seumur hidup," ungkap dokter telah puluhan tahun mengobati pecandu narkoba ini.

Pemred Indonews.id, Drs. Asri Hadi Bersama Kepala Deputi Rehabilitasi BNN dr. Kusman Suriakusumah SpKJ MPH

Bagi pecandu, insting binatang lebih dominan dibanding menggunakan naluri. "Pemakai narkoba itu hidupnya tidak normatif. Jadi norma-norma itu dilanggar. Norma itu kan di atas etika. Jadi kadang pecandu itu melanggar itu semua," tukasnya.

Ia menegaskan bahwa pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika adalah orang sakit yang wajib menjalani pengobatan dengan menempatkan mereka ke dalam fasilitas rehabilitasi.

"Penempatan mereka dalam fasilitas rehabilitasi sesuai dengan tujuan UU No.35 tahun 2019 tentang Narkotika (Ps4 huruf d) yang menyebutkan untuk menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalaguna dan pecandu narkoba," tututp dokter Kusman.

Terpisah, Pemimpin Redaksi Indonews.id, Drs. Asri Hadi selaku Wakil Sekretaris Jenderal BERSAMA mengatakan dokter Kusman merupakan ahli di bidang kesehatan khususnya pengobatan penyalahguna narkoba.

Dokter bergelar doktor ini telah puluhan tahun berpengalaman mengobati penyalahguna narkoba dan sekaligus menjadi aktivist anti narkoba

"Dr Kusman Suriakusumah ahli di bidang kesehatan khususnya penyalahgunaan Narkoba. Sudah puluhan tahun beliau aktif memberikan pengobatan bagi pecandu narkoba. Saya mengenal beliau sejak dari sama-sama aktif di organisasi BERSAMA sampai beliau menjabat deputi rehabilitasi BNN," tutur Asri Hadi kepada Indonews.id, Selasa (4/5/21).*(Rikard Djegadut).

Loading...

Artikel Terkait