Bisnis

HS Dillon : Rizal Ramli Kepala Bulog Paling Sensible di Zamannya

Oleh : very - Rabu, 28/03/2018 17:40 WIB

HS Dillon, Pakar Pertanian (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Rizal Ramli adalah Kepala Bulog terbaik sepanjang masa. Dia paling sensible tangani Bulog karena berhasil mengendalikan harga beras  dan gula dengan efektif tapi  gabah petani ditampung dengan harga baik.

Rizal juga orang pintar yang bicara berdasar data dan tanpa tedeng aling-aling. Orang pintar dianggap tidak bisa berkomunikasi halus oleh orang yang bodoh. Semua yang disampaikannya semasa menjabat Menko Maritim terbukti benar. Misalnya, listrik 35 ribu MW, Listrik tidak jadi diproduksi sampai 35 ribu MW, dan Masela akhirnya diproses di darat.

“Dia adalah Kepala Bulog terbaik sepanjang masa. Dia paling sensible tangani Bulog karena berhasil mengendalikan harga beras  dan gula dengan efektif tapi  gabah petani ditampung dengan harga baik. Sekarang ini, para pencari rente yang main kuota (impor beras, gula,daging) hanya memikirkan keuntungan jangka pendek di kementerian perdagangan,” ujarnya di Jakarta, Rabu, (28/3/2018).

Anehnya menjelang panen padi justru impor beras dibuka. Itu yang menurut HS Dillon adalah kebijakan yang keliru.

Selama 10 tahun pemerintahan SBY menjabat, dia inginkan revitalisasi  pertanian, tapi ternyata impor beras malah naik 350 persen

Terpisah, Ramli menilai kebijakan pemerintah yang membuka keran impor beras sebanyak 281.000 ton dari Vietnam tidak tepat. Bahkan dia curiga kebijakan tersebut syarat kepentingan politik.

Rizal yang pernah menjadi Kepala Perum Bulog pada 2000-2001 menjelaskan, memang panen beras akan tergangu jika terjadi kendala cuaca. Namun jika terkendala karena curah hujan yang tinggi, dia menghitung penurunan jumlah panen hanya sekitar 1%.

"Jadi enggak perlu impor. Tapi kalau sedang elnino cuaca panas sekali siklus 6 tahun sekali bisa anjlok 10%, itu setara 3 juta ton," tuturnya dalam Diskusi KPPN DPP PAN `Ekonomi Indonesia di Tahun Politik` di markas DPP PAN, Jakarta.

Dengan melihat data tersebut, maka menurutnya pemerintah tidak seharusnya membuka keran impor. Apalagi menjelang musim panen raya.

Jika impor dilakukan pada saat masa panen, Rizal mengkhawatirkan harga gabah petani akan merosot. Alhasil petani juga yang dirugikan.

"Kasihan petani, harga gabah turun. Impor boleh tapi harus ada timing-nya," tambahnya.

Rizal curiga kebijakan tersebut diambil sebagai langkah politik untuk menjatuhkan elektabilitas Presiden Joko Widodo. Sebab setelah keputusan itu diambil ramai menjadi perbincangan publik.

"Jangan-jangan yang impor itu tujuannya politik menurunkan elektabilitas Pak Jokoi. Karena kan sebenarnya bisa saja tunggu 2 bulan lagi," pungkasnya. (Very)

Artikel Terkait