Psikolog : Abaikan Jejak Kesehatan, Petugas KPPS Banyak yang Meninggal

Oleh : Wilfrid kolo - Minggu, 26/05/2019 19:44 WIB

Psikolog senior Tika Bisono saat diskusi pers Aliansi Masyarakat Sipil untuk Pemilu Konstitusional di Balai Sarwono, Jakarta. (foto : wilfrid kolo)

Jakarta, INDONEWS.ID - Psikolog Tika Bisono mengungkapkan kematian petugas KPPS usai perhitungan suara di TPS Pilpres dan pileg 2019, April lalu akibat kelelahan dan rekam jejak penyakit bawaan.

Baginya kedua hal tersebut terjadi karena pola perekrutan petugas KPPS yang tidak profesional dan mengabaikan hal-hal urgen seperti rekam jejak kesehatan dan perbandingan voter dengan petugas serta logistik dan kesiapan medik di area TPS.

"Saya kira perekrutannya tidak profesional. Mereka asal terima saat pendaftaran petugas KPPS. Ada gak ditanya rekam jejak kesehatan calon petugas, persiapan logistik yag memadai, petugas kesehatan di area TPS, dan waktu isterahat yang cukup,"  kata Tika.

Dia sampaikan itu saat diskusi pers Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Pemilu yang diselenggarakan Fokal UI di Balai Sarwono, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (26/5/2019)

Loading...

Tika menganalogikan jika hanya ada 3 sampai 5 petugas KPS dibandingkan dengan ratusan kertas suara yang harus mereka hitung dengan fokus yang tinggi selama berjam-jam bahkam sampai tengah malam.

Itu membuat mereka sangat kelelahan. Apalagi jika mereka punya jejak penyakit tertentu

"Bayangkan jika satu petugas bertanggung jawab untuk ratusan lembar kertas suara, kan gempor banget. Apalagi dia punya rekam jejak kesehatan yang kurang baik pasti dampaknya serius. Apalagi mereka punya penyakit bawaan,` ujar Tika.

Karena itu, Tika berharap KPU perlu mengevaluasi pola perekrutan, menyediakan logistik yang memadai serta menyiapkan petugas kesehatan yang stanby di lokasi TPS serta menambah jumlah anggota KPPS sehingga mereka punya waktu yang istirahat yang cukup karena ada pergantian. (Wilfrid Kolo) 

Artikel Terkait